Home / Artikel / BERITA UTAMA / DAERAH / HUKRIM / INVESTIGASI / KESEHATAN / NEWS / Tag / TNI-POLRI / Uncategorized

Minggu, 22 Juni 2025 - 15:41 WIB

RESPONS UMAT ISLAM INDONESIA TERHADAP KONFLIK IRAN-ISRAEL

Oleh Aceng Syamsul Hadie,S.Sos.,MM.

Oleh Aceng Syamsul Hadie,S.Sos.,MM.

 

Oleh Aceng Syamsul Hadie,S.Sos.,MM. Pernyataan serangan Iran sebagai “Pelepas Dahaga” secara akurat menangkap kompleksitas dan polarisasi pandangan di kalangan umat Islam Indonesia. Ini bukan isu hitam-putih, dan perpecahan yang terjadi didasari oleh campuran sentimen keagamaan, frustrasi geopolitik, dan kekhawatiran kemanusiaan.

Ini adalah inti dari sentimen kelompok yang mendukung atau setidaknya memaklumi tindakan Iran. Alasan di baliknya sangat kuat secara emosional dan psikologis. Selama berbulan-bulan, umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia,

menyaksikan penderitaan luar biasa di Gaza. Harapan besar disematkan pada negara-negara Arab yang kuat secara militer dan ekonomi (seperti Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab) untuk mengambil tindakan nyata. Namun,

respons mereka dianggap terlalu lemah, terbatas pada kecaman diplomatik, dan bahkan beberapa dituduh menormalisasi hubungan dengan Israel.
Dalam kekosongan tindakan dari negara-negara Arab Sunni, serangan langsung Iran—terlepas dari hasil militernya—dilihat sebagai satu-satunya tindakan perlawanan yang berani dan konkret terhadap Israel oleh sebuah negara Muslim. Bagi kelompok ini, tindakan Iran menjadi simbol bahwa Israel tidak “kebal hukum” dan bisa diserang balik. Inilah yang dimaksud dengan “pelepas dahaga”; sebuah kelegaan psikologis bahwa ada yang berani membalas.

Baca juga  Babinsa Koramil 13/Buluspesantren Komsos Dengan Anggota Polsek

Bagi pendukung pandangan ini, penderitaan rakyat Palestina jauh lebih mendesak daripada perbedaan teologis Sunni-Syiah. Mereka berargumen bahwa dalam menghadapi musuh bersama (dalam persepsi mereka adalah agresi Israel), solidaritas sesama Muslim harus diutamakan.

Pandangan Fahmi Huwaidi
Kutipan “Mazhab Pejuang Kemanusiaan vs. Mazhab Apartheid Zionis” dari intelektual Mesir, Fahmi Huwaidi, ini sangat penting karena menawarkan kerangka baru untuk memahami konflik ini, yang beresonansi kuat dengan kelompok pro-perlawanan di Indonesia.

Huwaidi secara cerdas menggeser narasi dari “Sunni vs. Syiah” menjadi “Kemanusiaan vs. Penindasan”. Ini memungkinkan banyak Muslim Sunni di Indonesia untuk mendukung tindakan Iran tanpa merasa mengkhianati identitas mazhab mereka.

Dengan membingkainya sebagai perjuangan untuk kemanusiaan, spektrum pendukung menjadi lebih luas. Siapa pun, tanpa memandang agama atau kebangsaan, yang menentang apartheid dan genosida dapat masuk ke dalam “mazhab pejuang kemanusiaan”. Sebaliknya, siapa pun yang mendukung atau diam terhadap tindakan Israel dikelompokkan sebagai pendukung “mazhab apartheid Zionis”.

Kelompok yang Kontra atau Berhati-hati terhadap Tindakan Iran
Di sisi lain, ada sebagian besar umat Islam Indonesia yang bersikap skeptis, khawatir, atau menentang serangan Iran. Kelompok ini sering kali diwakili oleh organisasi Islam besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, serta Pemerintah Indonesia.

Baca juga  Istana Aladin Jadi Posyan Operasi Ketupat Semeru 2024 Polres Tuban

Alasan utama adalah pragmatisme. Mereka khawatir serangan Iran akan memicu perang regional yang jauh lebih besar dan destruktif. Perang semacam itu tidak hanya akan menghancurkan kawasan Timur Tengah tetapi juga akan memperburuk kondisi rakyat Palestina. Sikap resmi pemerintah Indonesia dan ormas Islam besar adalah menyerukan de-eskalasi dan menahan diri bagi semua pihak.

Tidak dapat dipungkiri, sentimen anti-Syiah masih ada di sebagian kalangan Muslim Sunni di Indonesia. Mereka memandang Iran dengan curiga, menganggap tindakan Iran bukan murni untuk membela Palestina, melainkan bagian dari agenda geopolitiknya untuk memperluas pengaruh Syiah (hegemoni Persia) di Timur Tengah. Bagi mereka, ini adalah “perang proksi” di mana Palestina hanya dijadikan alasan.

Ada juga kelompok yang Fokus pada Diplomasi dan Solusi Jangka Panjang, mereka percaya bahwa kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru. Jalan yang paling realistis, menurut mereka, adalah melalui tekanan diplomatik internasional, bantuan kemanusiaan, dan terus memperjuangkan solusi dua negara (two-state solution) yang adil bagi Palestina.

*Penulis,
Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional).

Share :

Baca Juga

Uncategorized

Lakukan Gatur Di Dermaga Fery Cegah Gangguan Kamtibmas

Uncategorized

Pantau Daerah Rawan Laka Lantas Satlantas Polres Pulang Pisau Gelar Patroli

Artikel

Jelang Liga 3 PSSI Polisi Lakukan Asesmen Stadion Letjend H. Soedirman BojonegoroL

Uncategorized

Sambang ke Masyarakat, Personel Polsek Maliku Lakukan Sosialisasi dan Imbauan

Artikel

Tingkatkan Keamanan, Waspada Laka Lantas, Satlantas Polres Pulang Pisau Giat Patroli Pantau Wilayah Rawan Laka Lantas

Artikel

Satlantas Polres Pulang Pisau Gencar Imbau Keselamatan dan Lakukan Patroli di Daerah Rawan Laka Lantas

Artikel

Pererat Kerjasama TNI dan Kementerian BUMN Tandatangani Nota Kesepahaman

Uncategorized

Personil Polsek Kahayan Kuala Sosialisasi Nomor WA satwil dan Ka Satwil