GRESIK — Upaya menghadirkan pendidikan yang benar-benar ramah bagi seluruh anak, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK), kembali diperjuangkan Anggota DPD RI, Dr. Lia Istifhama. Dalam kunjungan kerjanya di SDN 13 Gresik, Ning Lia tampak berdialog hangat dengan para guru dan orang tua, sembari menegaskan bahwa setiap anak berhak merasakan sekolah yang nyaman dan inklusif.
“Pendidikan inklusi bukan hanya soal regulasi. Ini tentang memastikan setiap anak merasa diterima,” ujar Ning Lia dengan suara lembut namun tegas.
Keterbatasan Anggaran, Dampak Nyata pada Anak
Di SDN 13 Gresik, persoalan nyata terlihat jelas. Sekolah yang berada di lingkungan dengan sekitar 4.000 penduduk ini hanya sanggup menerima lima siswa ABK setiap tahun. Bukan karena kurangnya semangat, tetapi karena dukungan anggaran yang terbatas.
“Bayangkan, ada banyak anak yang ingin sekolah di sini. Tapi sekolah hanya bisa menerima lima. Sementara kebutuhannya jauh lebih besar,” tutur Ning Lia, putri KH Maskur Hasyim ini.
Orang tua pun kerap kebingungan mencari sekolah lain karena rujukan inklusi di Gresik sangat sedikit. Beberapa di antara mereka terpaksa menempuh jarak jauh setiap hari.
Perjuangan Orang Tua: Antara Harapan dan Lelah
Dalam dialog, Ning Lia menyerap cerita-cerita para orang tua. Ada yang harus mengantar anaknya hingga 15 kilometer karena sekolah inklusi terdekat tidak tersedia di kecamatannya. Ada pula ibu yang harus membonceng anak dengan kondisi tubuh besar atau obesitas, penuh kekhawatiran setiap kali melintasi jalanan.
“Mereka tidak hanya berjuang untuk mengantar. Mereka sedang memperjuangkan masa depan anaknya,” kata Ning Lia dengan empati yang kuat.
Sebagai seorang tokoh perempuan, ia memahami betul betapa berat perjalanan itu — terutama bagi keluarga yang secara ekonomi terbatas.
Harapan untuk Negara Hadir Lebih Kuat
Melihat kondisi ini, Ning Lia mengajak pemerintah pusat untuk memberi perhatian lebih besar terhadap pendidikan inklusi. Ia berharap Presiden Prabowo Subianto serta Kemendikdasmen membuka ruang kebijakan yang lebih berpihak.
Beberapa langkah yang ia dorong meliputi: Penambahan anggaran BOS bagi sekolah inklusi, Dukungan pembiayaan khusus untuk sekolah yang menangani pendidikan reguler dan inklusi sekaligus, Pemerataan sekolah inklusif berbasis kecamatan agar orang tua tidak lagi menempuh jarak jauh.
“Ini Tentang Martabat Anak Kita”
Ning Lia mengakui bahwa sekolah-sekolah inklusi telah memberikan yang terbaik, bahkan dengan sumber daya yang terbatas. Karena itulah negara harus menambah dukungan.
“Sekolah inklusi telah membuka pintu dan hati untuk anak-anak kita. Kini negara perlu hadir lebih kuat. Ini bukan hanya tentang pendidikan, tapi tentang martabat anak-anak Indonesia,” tutupnya.










