Home / Artikel / BERITA UTAMA / DAERAH / HUKRIM

Minggu, 29 Maret 2026 - 15:26 WIB

STOP MBG, Aceng Syamsul Hadie (ASH): Alihkan Anggaran MBG untuk Pendidikan Gratis, Investasi Nyata Masa Depan Bangsa

JAKARTA – Wacana mempertahankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan anggaran ratusan triliun rupiah harus mulai diuji secara jujur dan rasional. Di tengah keterbatasan fiskal negara, setiap rupiah anggaran publik seharusnya diarahkan pada sektor yang memberikan dampak jangka panjang paling besar. Dalam konteks ini, pendidikan jelas berada di posisi teratas.
“Stop MBG, Alihkan Anggaran MBG untuk Pendidikan Gratis SD hingga Kuliah, itu merupakan Investasi Nyata untuk masa depan bangsa”, ungkap Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM berinisial ASH selaku Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional).

Bayangkan, ASH menjelaskan jika anggaran sebesar Rp335 triliun yang dialokasikan untuk MBG dialihkan sepenuhnya ke sektor pendidikan. Dengan estimasi kebutuhan sekitar Rp100 juta untuk membiayai satu anak dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi, Indonesia berpotensi membiayai lebih dari 3 juta anak untuk mendapatkan pendidikan gratis secara utuh. Ini bukan sekadar angka, tetapi peluang konkret untuk memutus rantai kemiskinan struktural yang selama ini menjadi persoalan laten bangsa.

ASH menggaris bawahi, bahwa Pendidikan memiliki karakteristik yang berbeda dari program bantuan konsumtif. Ia bukan sekadar intervensi jangka pendek, melainkan investasi strategis yang menghasilkan efek berlapis (multiplier effect) dalam jangka panjang. Setiap individu terdidik berkontribusi pada peningkatan produktivitas, inovasi, dan daya saing nasional. Dalam perspektif ekonomi pembangunan, tidak ada instrumen yang lebih efektif dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia selain pendidikan yang inklusif dan terjangkau.

Baca juga  Patroli di Pasar Besar, Satsamapta Polresta Palangka Raya Pertahankan Kondusifitas

“Sebaliknya, MBG—meskipun memiliki niat baik dalam aspek pemenuhan gizi—lebih bersifat intervensi jangka pendek yang dampak ekonominya masih diperdebatkan. Seperti telah banyak dikritisi, klaim multiplier effect MBG cenderung dilebih-lebihkan dan belum didukung oleh perhitungan dampak bersih (net effect) yang komprehensif. Bahkan, dalam banyak kasus, program ini berpotensi hanya menggantikan pola konsumsi yang sudah ada, bukan menciptakan nilai tambah baru secara signifikan”, tambahnya.

Lebih jauh, alokasi anggaran besar untuk MBG juga membawa konsekuensi biaya peluang (opportunity cost) yang tidak kecil. Setiap rupiah yang dialokasikan untuk satu program berarti mengorbankan potensi pembiayaan sektor lain yang mungkin lebih strategis. Dalam kondisi fiskal yang ketat, pilihan kebijakan tidak lagi soal “baik atau buruk”, tetapi soal “mana yang paling berdampak”.

ASH menegaskan bahwa Pendidikan gratis dari SD hingga kuliah adalah kebijakan yang tidak hanya menjawab persoalan akses, tetapi juga menciptakan keadilan sosial yang lebih substansial. Ketika negara hadir menjamin pendidikan tanpa biaya, maka latar belakang ekonomi tidak lagi menjadi penghalang utama bagi anak-anak untuk meraih masa depan yang lebih baik. Inilah bentuk intervensi struktural yang mampu mengubah wajah bangsa dalam satu hingga dua generasi ke depan.

Baca juga  Sebagai Inspektur Upacaran Peringatan Hari Pahlawan Personel Kodim 1009/Tanah Laut Ingatkan Tentang Sejarah

Tentu, kebutuhan gizi anak tetap penting. Namun, pendekatannya tidak harus melalui program masif dengan anggaran jumbo yang rawan inefisiensi. Intervensi gizi dapat dilakukan secara lebih terarah, berbasis data, dan difokuskan pada kelompok yang benar-benar membutuhkan, seperti wilayah dengan prevalensi stunting tinggi.

Sudah saatnya pemerintah berani melakukan reorientasi kebijakan. Mengalihkan anggaran dari MBG ke pendidikan gratis bukanlah langkah mundur, melainkan lompatan strategis menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. Negara tidak boleh terjebak pada program yang terlihat populis, tetapi harus berani memilih kebijakan yang memberikan dampak nyata dan bertahan lama.

“Jika tujuan utama pembangunan adalah menciptakan manusia Indonesia yang unggul, maka jawabannya jelas: pendidikan harus menjadi prioritas absolut. Anggaran negara adalah cerminan arah masa depan bangsa. Pertanyaannya, apakah kita ingin membangun generasi yang hanya kenyang hari ini, atau generasi yang siap memimpin Indonesia di masa depan?”, pungkasnya.[]

Sumber: ASH
Editor: Tim Redaksi

Share :

Baca Juga

BERITA UTAMA

Kasubsektor Jekan Raya Polsek Pahandut Pimpin Apel Pagi Sebelum Laksanakan Binrohtal

Artikel

Sinergi Koramil 1612-03/Reok dan Puskesmas Kajong dalam Menjaga Kesehatan Anak di Reok Barat

BERITA UTAMA

Pastikan Keamanan Lingkungan Obyek Vital Polsek Maliku Laksanakan Kegiatan Patroli Malam

Artikel

Satgas Pamtas Kewilayahan Yonif 407/PK Pos Kamundan Kembali Melaksanakan Sweping Kapal Opsi Barang

Artikel

Dugaan Pembunuhan Berencana Terhadap Jurnalis Sukamto dan Brendi,Ketum PJI Pastikan Hukum Tegak Lurus

Artikel

Program Bajaka Presisi Polres Pulang Pisau tidak hanya sasar anak anak

BERITA UTAMA

Ramadhan Penuh Berkah, Koramil Batu Benawa-Hantakan Gelar Aksi Berbagi Takjil

BERITA UTAMA

Perkuat Jalinan Silaturahmi, Kapolres Bondowoso Kunjungi Ponpes Nurut Tholabah
error: Konten dilindungi!!