JEMBER – Harapan pembangunan yang seharusnya membawa kesejahteraan justru menyisakan luka bagi sebagian warga. Proyek Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Pasar Sentir, Desa Tembokrejo, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember, kini menuai sorotan setelah lima keluarga harus kehilangan tempat tinggal tanpa kejelasan kompensasi.
Keputusan menjadikan Pasar Sentir sebagai lokasi pembangunan diambil melalui musyawarah internal pemerintah desa. Namun di balik keputusan itu, denyut ekonomi warga yang selama ini bergantung pada pasar tradisional tersebut perlahan terhenti. Ruko-ruko yang menjadi tempat tinggal sekaligus sumber penghidupan warga harus dikosongkan.
Lima keluarga yang terdampak kini berada dalam kondisi tidak menentu. Sebagian harus menumpang di rumah kerabat, sementara janji bantuan yang sempat disampaikan Kepala Desa Tembokrejo dalam forum musyawarah desa hingga kini belum terealisasi.
Persoalan ini bahkan telah dibawa ke Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi A DPRD Jember. Meski DPRD menyatakan siap memediasi, penyelesaian konkret bagi warga terdampak belum juga terlihat.
Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Jawa Timur pun turun tangan. Ketua Koordinator Wilayah MAKI Jatim, Heru, menegaskan pihaknya tidak akan tinggal diam melihat kondisi warga yang dinilai terabaikan.
“Pembangunan tidak boleh mengorbankan rakyat kecil. Jika ada janji yang tidak ditepati, itu bisa masuk ranah wanprestasi. Kami siap tempuh jalur hukum, baik perdata maupun pidana jika ditemukan unsur pelanggaran,” tegasnya.
Di sisi lain, MAKI Jatim juga mengungkap dugaan ketidaksesuaian anggaran dalam sejumlah proyek KDMP. Dana dari pusat yang disebut mencapai Rp1,5 hingga Rp1,7 miliar, diduga tidak sepenuhnya sampai ke tingkat pelaksana di desa.
“Kalau benar ada selisih signifikan, ini bukan sekadar persoalan administratif, tapi bisa mengarah pada dugaan korupsi,” imbuh Heru.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa pembangunan desa harus tetap berpijak pada nilai kemanusiaan dan kearifan lokal. Relokasi atau penggusuran, menurutnya, wajib disertai solusi yang adil dan transparan bagi warga terdampak.
Saat ini, tim investigasi MAKI Jatim masih melakukan penelusuran data dan pendalaman keterangan dari para korban. Salah satunya Sri, yang kini harus menjalani hari-harinya dengan menumpang di rumah keluarga, sembari menunggu kepastian yang tak kunjung datang.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa di balik ambisi pembangunan, ada suara-suara kecil yang tak boleh diabaikan. Lima keluarga di Pasar Sentir kini hanya berharap satu hal sederhana: keadilan dan kepastian atas nasib mereka.
Anil










