Home / BERITA UTAMA / DAERAH / HUKRIM / KESEHATAN / NEWS / Tag

Minggu, 15 Maret 2026 - 16:53 WIB

Aceng Syamsul Hadie (ASH): Ketika Timur Tengah Menjadi Arena Benturan Blok Global, Kita Menuju Perang Dunia Baru

JAKARTA – Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kini telah melewati batas konflik regional biasa. Serangan militer besar yang menewaskan ribuan orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, bukan sekadar operasi militer, melainkan simbol eskalasi yang mengarah pada benturan geopolitik global. Dunia kini menyaksikan bagaimana Timur Tengah sekali lagi dijadikan laboratorium konflik oleh kekuatan besar yang berlomba mempertahankan hegemoni.

“Ketika Timur Tengah menjadi arena benturan Blok Global, tanpa disadari bahwa kita menuju perang dunia baru”, ungkap Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM. yang berinisial ASH selaku Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional).

ASH menyoroti pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menuntut Iran “menyerah tanpa syarat” menunjukkan satu hal: Washington tidak lagi berbicara dalam bahasa diplomasi, tetapi dalam bahasa ultimatum imperial. Dalam sejarah hubungan internasional, tuntutan semacam ini hampir selalu menjadi pembuka bagi perang yang lebih luas. Iran tentu tidak akan menerima penghinaan geopolitik semacam itu, karena bagi Teheran, menyerah berarti menyerahkan kedaulatan nasionalnya.

“Di titik inilah konflik mulai bergerak menuju konfigurasi blok global. Indikasi bahwa China mempertimbangkan dukungan finansial dan teknologi kepada Iran, serta laporan mengenai bantuan intelijen dari Russia, menandakan bahwa konflik ini tidak lagi berdiri sendiri. Timur Tengah sedang berubah menjadi arena pertarungan kekuatan global baru”, tambahnya.

Baca juga  Jalin Silaturahmi, Babinsa Gelar Komsos Bersama Perangkat Desa

ASH meyakini bahwa motif China sebenarnya tidak romantis atau ideologis. Beijing bergerak karena kepentingan energi dan stabilitas jalur perdagangan. Sebagai pembeli utama minyak Iran, China tidak dapat membiarkan kawasan Teluk runtuh dalam perang besar. Jalur energi melalui Selat Hormuz adalah nadi ekonomi Asia. Jika jalur ini terganggu, dampaknya tidak hanya menghantam Iran atau Amerika, tetapi juga mengguncang ekonomi global.

Namun dukungan China kemungkinan tidak akan tampil dalam bentuk keterlibatan militer terbuka. Beijing lebih memilih strategi bayangan: dukungan finansial, suplai teknologi dual-use, serta perlindungan diplomatik di forum internasional. Strategi ini memungkinkan China menahan tekanan Barat tanpa harus terseret ke medan perang secara langsung.

Sementara ASH pun menduga bahwa Rusia melihat konflik ini dari perspektif berbeda. Bagi Moskow, melemahnya pengaruh Amerika di Timur Tengah adalah keuntungan strategis. Jika Iran mampu bertahan menghadapi tekanan militer Barat, maka kredibilitas geopolitik Washington akan mengalami pukulan serius. Karena itu, dugaan bantuan intelijen Rusia kepada Iran bukanlah sesuatu yang mengejutkan.

“Situasi ini menciptakan konfigurasi geopolitik yang berbahaya: Amerika Serikat dan Israel di satu sisi, berhadapan dengan Iran yang berpotensi mendapat dukungan strategis dari Rusia dan China di sisi lain. Pola ini sangat mengingatkan pada dinamika perang blok dalam sejarah dunia”, jelas ASH.

Baca juga  Kapolrestabes Surabaya bersama KPU Surabaya Gelar Simulasi Pilkada Serentak 2024

Masalah terbesar dari konflik ini adalah absennya mekanisme global yang mampu menahan eskalasi. Lembaga internasional seperti United Nations semakin terlihat tidak berdaya menghadapi konflik yang melibatkan kekuatan besar. Ketika negara adidaya memutuskan menggunakan kekuatan militer secara sepihak, hukum internasional sering kali hanya menjadi retorika tanpa daya paksa.

ASH menggaris bawahi, jika eskalasi terus berlangsung, dunia menghadapi tiga kemungkinan skenario. Pertama, perang regional yang berkepanjangan di Timur Tengah. Kedua, perang proksi global yang melibatkan dukungan terbuka dari Rusia dan China kepada Iran. Ketiga—dan ini yang paling berbahaya—konflik ini berkembang menjadi perang blok global yang melibatkan kekuatan besar secara langsung.

“Sejarah telah berkali-kali menunjukkan bahwa perang besar dunia sering kali dimulai dari konflik regional yang tampak terbatas. Hari ini Timur Tengah kembali berada di titik rawan tersebut. Jika diplomasi terus dikalahkan oleh logika kekuatan militer, maka dunia bukan hanya menyaksikan eskalasi konflik, tetapi juga sedang berjalan perlahan menuju babak baru konfrontasi global”, pungkasnya.[]

Sumber: ASH
Editor: Tim Redaksi

Share :

Baca Juga

BERITA UTAMA

HARKAMTIBMAS, POLRES PAMEKASAN AMANKAN PULUHAN MOTOR TERLIBAT BALAP LIAR

Artikel

TMMD Dorong Percepatan Pembangunan Desa Kalibuntu

BERITA UTAMA

Gelar Halal Bihalal, Danrem 074/Warastratama ajak Prajurit dan PNS Jaga Kondusifitas Kota Solo

Artikel

Sampaikan Imbauan Pemilu Aman dan Damai Kepada Masyarakat oleh Personel Polsek Maliku

Artikel

Polres Kediri Kota Gelar Deklarasi Damai Wujudkan Pilkada 2024 Sejuk dan Kondusif

BERITA UTAMA

Sinergitas TNI-POLRI Amankan Kunjungan Presiden RI Ke -5 Di Blitar

Artikel

Paket Pasar Warsa, Bentuk Kepedulian Warsubi-Salman untuk Masyarakat Desa Kabuh

Artikel

Meneladani Akhlaq Rasululloh, Polres Pasuruan Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1445 H