MAKKAH – Menjelang fase puncak ibadah haji atau Armuzna, Anggota DPD RI dari Jawa Timur, Lia Istifhama melakukan kunjungan langsung ke sejumlah kloter jamaah haji Jawa Timur di kawasan Ar Raudhah, Makkah. Kunjungan tersebut dilakukan di tengah tugas pengawasan haji Komite III DPD RI guna memastikan kesiapan jamaah menghadapi rangkaian ibadah inti di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Beberapa kloter yang dikunjungi antara lain Kloter 77 di Hotel Mahd Al Resala sektor 4 nomor 10, serta Kloter 51 di Hotel Moro Al Alamiyah sektor 3 nomor 8. Dari hasil dialog dan pemantauan lapangan, senator yang akrab disapa Ning Lia itu melihat secara langsung kesiapan jamaah memasuki fase Armuzna yang berlangsung mulai 8 hingga 13 Zulhijah.
Dalam kesempatan tersebut, Ning Lia tidak hanya menemui jamaah yang menjalani skema murur karena kondisi kesehatan, tetapi juga memberikan motivasi kepada seluruh jamaah agar menjaga stamina dan fokus menghadapi rangkaian ibadah wajib haji.
“Armuzna merupakan rangkaian inti ibadah haji yang membutuhkan kesiapan fisik dan mental, sehingga jamaah harus benar-benar menjaga kesehatan dan stamina,” ujar Lia di hadapan jamaah.
Ia mengingatkan bahwa kondisi cuaca di Tanah Suci cukup ekstrem, sehingga jamaah diminta menjaga pola makan, mencukupi waktu istirahat, serta tidak memaksakan diri apabila kondisi tubuh kurang prima.
“Cuaca di Tanah Suci cukup ekstrem, sehingga jamaah harus memperhatikan pola makan, istirahat yang cukup, dan jangan memaksakan diri ketika kondisi tubuh kurang fit,” lanjutnya.
Selain soal kesehatan, Ning Lia juga menyoroti pentingnya menjaga kebersamaan antarsesama jamaah, khususnya bagi jamaah mandiri non-KBIHU asal Kabupaten Sumenep yang menurutnya menunjukkan solidaritas dan kesiapan luar biasa.
“Saya berharap jamaah haji asal Kabupaten Sumenep tetap kompak, saling membantu, dan menjaga kebersamaan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. Terbukti jamaah ini sangat siap memasuki fase Armuzna karena saling memberikan support wawasan satu sama lain,” tuturnya.
Menurut Lia, perjalanan haji bukan hanya persoalan ibadah personal, melainkan juga ujian kebersamaan dalam saling menjaga dan menguatkan satu sama lain.
Dalam dialog bersama jamaah, ia juga menyerap masukan terkait layanan haji di bawah koordinasi Kementerian Haji RI yang kini dipimpin Irfan Yusuf. Secara umum, Lia mengapresiasi kualitas akomodasi yang dinilai bersih dan nyaman, meski ia mencatat adanya kendala keterlambatan distribusi konsumsi.
“Secara akomodasi kamar, hotel mereka sangat bersih dan luas. Namun memang sempat terjadi keterlambatan makanan yang seharusnya datang siang, namun baru diterima sore hari,” jelasnya.
Apresiasi atas kehadiran Ning Lia juga datang dari Petugas Haji Daerah layanan umum, Abdul Aziz Haqiqi. Menurutnya, kunjungan langsung seorang senator ke kloter jamaah menunjukkan komitmen kuat dalam memastikan kualitas pelayanan haji benar-benar sesuai harapan jamaah.
“Di negara orang, akses tentu tidak semudah di tanah air. Kehadiran senator yang meninjau langsung ini menunjukkan pengawasan yang serius, dan itu sangat patut diapresiasi,” katanya.
Terkait skema Armuzna, Lia menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Haji RI melalui Sekretaris Direktorat Jenderal Pelayanan Haji, Abdul Haris Hasan, atas pematangan skema transportasi yang dinilai sangat sistematis.
“Jamaah insya Allah bisa lebih fokus pada kesiapan mental dan kebutuhan pribadi selama Armuzna karena Kemenhaj telah mempersiapkan skema yang sangat matang. Ini sesuai hasil kunjungan kami ke Dakker Makkah kemarin,” terang Lia, Minggu (25/5/2026).
Ia menjelaskan, kelancaran Armuzna sangat ditentukan oleh sistem transportasi Masyair yang telah dirancang detail. Untuk rute Makkah–Arafah, setiap markaz berisi 3.000 jamaah dilayani tujuh armada bus dengan sistem taradudi tiga kali perjalanan bolak-balik.
Kemudian rute Arafah–Muzdalifah dilayani 11 bus dengan enam kali perjalanan shuttle, sementara Muzdalifah–Mina disiapkan enam bus dengan sepuluh kali perjalanan. Untuk fase kepulangan Mina–Makkah, baik Nafar Awal maupun Nafar Tsani masing-masing dilayani 12 armada bus dengan tiga kali perjalanan bolak-balik.
Menurut Lia, skema ini memberi kepastian layanan sekaligus ketenangan bagi jamaah sehingga mereka dapat lebih khusyuk menjalankan ibadah.
Petugas transportasi Masyair sendiri dipastikan telah dibekali tugas rinci, mulai memahami jadwal pergerakan tiap kloter, mengawal skema murur dan tanazul, melakukan monitoring di pos Arafah, Muzdalifah, dan Mina, hingga berkoordinasi intensif dengan petugas sektor serta layanan perlindungan jamaah.
Dengan kesiapan tersebut, Lia optimistis pelaksanaan Armuzna tahun ini dapat berjalan tertib, lancar, dan memberi kenyamanan maksimal bagi seluruh jamaah haji Indonesia.
ANIL










