TARGETNEWS.ID SURABAYA – Di tengah riuh rendah kota dan dinamika kamtibmas yang kerap menguras energi, sebuah oase spiritual hadir dari sudut korps baju cokelat. Aiptu Affan Hermansyah, seorang anggota Polri yang sehari-hari bertugas sebagai pengayom masyarakat, menawarkan sebuah penyejuk jiwa lewat refleksi mendalam bertajuk “Modale Mung Yakin”. Sebuah konsep makrifatul qulub—pengenalan hati—yang membedah hakikat ketenangan hidup di tengah hiruk-pikuk dunia.
Bagi Affan, menjaga keamanan bukan sekadar urusan patroli fisik atau penegakan hukum. Lebih dari itu, ada dimensi batiniah yang harus disentuh. Ketika hati masyarakat tenang dan tertata, maka kedamaian publik akan tercipta dengan sedirinya.
Berikut adalah untaian perenungan spiritual “Modale Mung Yakin” yang dirajut Affan untuk menyelimuti hati masyarakat dengan kedamaian :
1. Fondasi Hidup: Modale Mung Yakin
Segala sesuatu di semesta ini bermula dari hati. Affan menegaskan bahwa mengarungi kehidupan harus diawali dengan keteguhan tauhid yang utuh. Modale mung yakin—modalnya hanya yakin—adalah bahan bakar utama dari sebuah niat yang ikhlas. Ketika seseorang menaruh keyakinan mutlak pada setiap ketetapan Allah SWT, maka ujian duniawi seberat apa pun tidak akan pernah mampu menggoyahkan langkahnya. Setiap ayunan langkah yang diawali karena Allah, pasti berujung keberkahan.
2. Membunuh Hasad: Rezeki Tak Akan Tertukar
Kegaduhan sosial sering kali lahir dari rasa cemburu dan kecemasan yang berlebihan atas urusan duniawi. Melalui pendekatan makrifat, Affan mengingatkan masyarakat untuk menyeka air mata kekhawatiran. Allah SWT telah membagi porsi rezeki secara presisi sejak manusia masih berada di dalam kandungan. Tugas kita hanyalah menjemputnya dengan cara yang halal dan terhormat. Yakini dengan seyakin-yakinya: apa yang menjadi hak kita tidak akan pernah tertukar, dan tidak akan pernah jatuh ke tangan orang lain.
3. Energi Rohani: Innallaha Ma’ashobirin
Sabar sering kali disalahartikan sebagai sebuah kepasrahan yang lemah. Padahal, dalam benteng rohani, sabar adalah puncak kekuatan spiritual tertinggi. Mengutip firman Allah SWT, Affan menekankan bahwa kedekatan dan pertolongan khusus dari Sang Pencipta hanya didekap oleh hamba-hamba-Nya yang mampu menahan diri, ikhlas, dan konsisten berjalan di atas rel kebenaran saat badai ujian datang menerpa.
4. Dua Sayap Penolong: Sholat dan Sabar
Saat beban hidup terasa menghimpit dada dan lorong keluar tampak buntu, manusia kerap kehilangan arah. Al-Qur’an Surah Al-Baqarah telah memberikan resep paling mujarab: jadikan sholat dan sabar sebagai penolongmu. Sholat adalah tali vertikal untuk mengadu langsung kepada Sang Pemilik Semesta, sementara sabar adalah jangkar agar hati tetap teduh dan tenang selama menunggu jawaban doa-doa yang melangit.
5. Harmoni Jiwa: Berusaha dan Bersabar
Islam adalah agama yang menuntut keseimbangan dinamis. Affan mengajak masyarakat untuk memadukan ikhtiar lahiriah dan batiniah. Muslim yang bijak tidak akan bermalas-malasan; mereka akan mengerahkan usaha terbaiknya di dunia dengan profesional. Namun, setelah peluh menetes, mereka akan menyerahkan serta menyabarkan hatinya atas apa pun takdir yang digoreskan oleh-Nya. Itulah puncak dari kepasrahan yang indah.
6. Puncak Tauhid: Iyyāka Na’budu wa Iyyāka Nasta’īn
Inilah inti dari seluruh perjalanan hati. Memutus ketergantungan pada makhluk dan menyandarkan seluruh jiwa hanya kepada Allah SWT.
Kalimat sakral dari Surah Al-Fatihah ini mengajarkan bahwa tidak ada tempat berlindung dan memohon yang sejati selain Dia. Ketika pelayanan masyarakat dan tugas kepolisian dijalankan dengan memegang teguh prinsip ini, maka setiap peluh dan tindakan akan menjelma menjadi ibadah yang murni demi mengharap ridha-Nya.
Melalui getaran pesan “Modale Mung Yakin” ini, Aiptu Affan Hermansyah berharap tulisan ini tidak sekadar menjadi barisan kata di atas kertas. Ia harus mampu menjadi oase yang membasuh dahaga spiritual, mempererat tali silaturahmi antar-sesama, serta melahirkan situasi kamtibmas yang aman, damai, dan kondusif—sebuah kedamaian yang lahir dari kokohnya iman di dalam dada. (TOK)










