TARGETNEWS.ID SUMENEP – Perempuan tidak harus menunggu untuk diberi ruang. Dengan pengetahuan, kepedulian, dan keberanian, perempuan dapat mengambil bagian dalam menentukan arah kebijakan yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Hj. Lia Istifhama, saat memberikan pendidikan politik kepada kader Fatayat NU di Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Madura, Selasa (27/10/2026).
Senator yang akrab disapa Ning Lia itu hadir sebagai pembicara dalam kegiatan Pendidikan Politik bertema “Menyemai Kesadaran Politik dan Kepemimpinan Perempuan” yang diselenggarakan PAC Fatayat NU Pragaan di Auditorium Lantai II Kantor MWCNU Pragaan.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Festival Santri NU Pragaan dalam memperingati Hari Santri Nasional 2026. Momentum ini dimanfaatkan untuk mengajak kader perempuan memperluas wawasan politik, memperkuat kapasitas kepemimpinan, serta memahami peran mereka dalam kehidupan demokrasi.
Menurut Ning Lia, politik tidak semata-mata berbicara tentang jabatan maupun kekuasaan. Lebih dari itu, politik berkaitan erat dengan kebijakan publik yang memengaruhi kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Mau tidak mau proses demokrasi akan terus berjalan. Suka tidak suka ada DPD, DPR dan sebagainya,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak kader Fatayat NU untuk tidak berhenti pada peran sebagai pengamat. Perempuan perlu memahami proses pengambilan kebijakan, berani menyampaikan aspirasi, serta ikut mengawal kepentingan masyarakat melalui jalur yang tersedia.
“Jangan sampai ada ruang-ruang, tapi kita gak mengambil ruang itu,” tegasnya.
Filosofi PEREMPUAN dan Kepemimpinan
Dalam kesempatan tersebut, Ning Lia memperkenalkan filosofi PEREMPUAN sebagai sembilan karakter yang dapat menjadi bekal bagi perempuan untuk tumbuh dan berkontribusi di ruang publik.
Kesembilan karakter itu meliputi Personality, Empathy, Responsibility, Equity, Motivation, Positivity, Universal, Analytical, dan Negotiation.
Filosofi tersebut menggambarkan bahwa kepemimpinan perempuan tidak cukup dibangun melalui keberanian tampil. Dibutuhkan pula kepribadian yang baik, kepekaan terhadap sesama, tanggung jawab, pemahaman tentang keadilan, kemampuan memotivasi, pola pikir positif, sikap inklusif, ketajaman analisis, serta kecakapan bernegosiasi.
Bagi Ning Lia, nilai-nilai tersebut penting agar perempuan mampu menyampaikan gagasan secara terukur sekaligus membangun komunikasi yang konstruktif ketika berhadapan dengan beragam kepentingan.
Ia juga menekankan pentingnya solidaritas antarkader melalui semangat woman support woman. Perempuan, menurutnya, perlu saling menguatkan, membuka kesempatan, dan mendorong sesamanya untuk berkembang.
Solidaritas bukan sekadar kebersamaan dalam organisasi, melainkan juga kesediaan untuk memberikan ruang bagi perempuan lain agar dapat bertumbuh dan berkontribusi. Dengan demikian, partisipasi perempuan dalam kehidupan sosial dan politik dapat dibangun melalui kolaborasi, bukan persaingan yang saling melemahkan.
Melek Kebijakan, Berani Menyampaikan Aspirasi
Ning Lia turut mengingatkan pentingnya kepekaan perempuan terhadap perkembangan regulasi dan kebijakan pemerintah. Ia mencontohkan pembahasan kebijakan di bidang pendidikan yang memerlukan perhatian publik agar pelaksanaannya dapat mempertimbangkan kondisi serta kebutuhan berbagai lembaga pendidikan.
Menurutnya, kader perempuan perlu membiasakan diri mempelajari substansi kebijakan sebelum menyampaikan kritik atau masukan. Dengan pemahaman yang memadai, aspirasi yang disampaikan akan lebih terarah, argumentatif, dan berpeluang menjadi bahan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan.
Pendidikan politik, dalam konteks tersebut, tidak hanya mengajarkan perempuan mengenali sistem demokrasi, tetapi juga membangun keberanian untuk terlibat secara bertanggung jawab.
Di tengah perkembangan teknologi, Ning Lia turut melihat media sosial dan media online sebagai sarana untuk memperluas pendidikan politik. Platform digital dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan gagasan, menjelaskan persoalan publik, serta menjangkau generasi muda dengan bahasa yang lebih dekat dengan keseharian mereka.
Namun, pemanfaatan ruang digital juga membutuhkan kemampuan memilah informasi, menganalisis persoalan, dan menyampaikan pesan secara tepat agar tidak berhenti pada popularitas, melainkan memberikan pemahaman yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dari Kader Organisasi Menjadi Penggerak Masyarakat
Bagi Ning Lia, kader Fatayat NU memiliki ruang untuk mengambil peran lebih luas, baik di lingkungan organisasi, masyarakat, maupun dalam proses demokrasi. Pengalaman berorganisasi dapat menjadi bekal untuk mengenali persoalan warga, membangun komunikasi, dan memperjuangkan aspirasi melalui mekanisme yang tersedia.
Ia berharap pendidikan politik tersebut tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga menumbuhkan keberanian kader perempuan untuk mengambil bagian dalam kehidupan publik.
Sebab, demokrasi membutuhkan partisipasi masyarakat yang memahami hak dan tanggung jawabnya. Perempuan pun memiliki kesempatan untuk berkontribusi melalui pengetahuan, kepedulian sosial, dan kemampuan membangun dialog.
Pada akhirnya, filosofi PEREMPUAN yang diperkenalkan Ning Lia menjadi pengingat bahwa kepemimpinan tidak semata-mata diukur dari posisi yang diduduki, tetapi juga dari nilai yang dibawa dan manfaat yang diberikan kepada sesama.
Dari ruang pendidikan politik di Pragaan, pesan itu menemukan relevansinya: perempuan bukan hanya bagian dari masyarakat yang merasakan dampak kebijakan, melainkan juga dapat mengambil peran dalam memahami, mengawal, dan membentuk kebijakan demi kepentingan bersama.
(Anil)










