Anggota DPD RI asal Jawa Timur Lia Istifhama menilai media sosial memiliki peran strategis dalam menentukan citra pariwisata Jawa Timur, terutama di mata wisatawan mancanegara yang menjadikan platform digital sebagai rujukan utama sebelum berkunjung.
Menurut Lia, persepsi yang terbentuk di media sosial dapat berdampak langsung terhadap minat kunjungan wisata. Konten negatif yang beredar luas berpotensi memengaruhi kepercayaan wisatawan dan berdampak pada sektor ekonomi turunan, termasuk kuliner dan UMKM.
“Media sosial saat ini menjadi etalase pariwisata. Wisatawan mancanegara sangat bergantung pada apa yang mereka lihat dan baca di media sosial. Jika citra yang muncul negatif, dampaknya bisa langsung terasa,” ujar Lia di Surabaya, Jum’at (13/02/26)
Ia menegaskan bahwa pembangunan citra pariwisata tidak cukup hanya melalui promosi formal pemerintah, tetapi juga membutuhkan dukungan narasi positif dari masyarakat di ruang digital. Cerita pengalaman yang autentik dinilai lebih efektif membangun kepercayaan publik.
Hal senada disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Evy Afianasari. Ia menyebut media sosial menjadi instrumen penting dalam promosi pariwisata modern yang tidak bisa dilepaskan dari partisipasi masyarakat.
“Kami mengajak masyarakat untuk turut menceritakan hal-hal positif tentang pariwisata Jawa Timur di media sosial. Pengalaman sederhana tentang kenyamanan, keramahan, dan keindahan destinasi sangat berpengaruh,” kata Evy.
Menurutnya, promosi berbasis pengalaman langsung dari masyarakat dan wisatawan dinilai lebih kredibel, khususnya bagi wisatawan mancanegara yang mencari referensi destinasi melalui media sosial.
Dengan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun narasi positif di ruang digital, Pemprov Jawa Timur optimistis citra pariwisata daerah akan semakin kuat dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
ANIL










