TARGETNEWS.ID Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Dr. Lia Istifhama, MEI menegaskan bahwa perempuan memiliki potensi besar menjadi pemimpin, namun harus mampu menjaga keseimbangan antara kelembutan dan ketegasan.
Hal tersebut disampaikan dalam forum bertajuk “Suara Perempuan untuk Indonesia Lebih Setara” yang digelar di Surabaya pada 8 Maret 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional.
Dalam sesi dialog bersama peserta, Ning Lia menjawab berbagai pertanyaan mengenai kepemimpinan perempuan, peran generasi muda, hingga isu kebijakan publik.
Menurut Ning Lia, perempuan sering menghadapi stereotip sebagai sosok yang terlalu lembut sehingga dianggap kurang tegas. Namun di sisi lain, ketika perempuan menunjukkan ketegasan, tidak jarang justru dianggap terlalu keras bahkan menakutkan.
“Kadang perempuan dianggap terlalu lembut karena tidak ingin menyakiti orang lain. Tetapi ketika menunjukkan sisi kuat, kita justru bisa terlihat lebih tegas dari laki-laki. Menemukan keseimbangan di tengah itu memang tidak mudah,” ujarnya.
Ia mengaku pernah merasakan dilema tersebut dalam berbagai peran kepemimpinan yang dijalaninya.
Perempuan, kata Ning Lia, harus mampu menunjukkan ketegasan tanpa membuat orang lain merasa tertekan atau takut.
Menurutnya, esensi kepemimpinan bukan terletak pada jabatan atau posisi, melainkan pada tindakan nyata yang dilakukan seorang pemimpin.
“Leadership itu bukan soal posisi, tetapi aksi. Bagaimana tindakan kita membuat orang mengikuti arahan kita bukan karena takut, tetapi karena mereka memahami bahwa itu benar,” tegasnya.
Ning Lia menambahkan bahwa salah satu cara agar ketegasan tidak terkesan menakutkan adalah dengan mengajak orang lain berpikir secara logis.
Pemimpin harus mampu menjelaskan suatu persoalan dengan analisis yang rasional sehingga orang memahami alasan di balik sebuah sikap atau kebijakan.
Ia mencontohkan isu impor beras yang sempat menjadi perbincangan publik. Menurutnya, kritik terhadap kebijakan tersebut harus disampaikan dengan pendekatan analitis, misalnya melihat keseimbangan harga pasar, potensi surplus, hingga dampaknya terhadap petani lokal.
“Kalau kita berpikir kritis, jangan langsung menolak atau mendukung. Kita harus melihat dulu analisisnya, bagaimana keseimbangan pasar, bagaimana dampaknya bagi petani lokal, dan bagaimana distribusi antarwilayah,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ning Lia juga menanggapi pertanyaan mengenai kebijakan anggaran berbasis gender di lembaga legislatif yang dinilai sering terjebak pada kegiatan seremonial.
Ia menilai bahwa kegiatan seremonial memang masih memiliki tempat di tengah masyarakat karena ada sebagian publik yang menyukainya.
Namun bagi dirinya, diskusi yang lebih mendalam dalam forum kecil sering kali justru lebih menghasilkan gagasan yang substantif.
Ning Lia mencontohkan sejarah perjuangan bangsa ketika para pemuda pada masa pergerakan kemerdekaan sering berkumpul dalam kelompok kecil untuk berdiskusi secara intens dan melahirkan pemikiran besar bagi masa depan Indonesia.
Dalam dialog tersebut, Ning Lia juga mengapresiasi keberanian generasi muda yang kritis terhadap berbagai isu bangsa. Menurutnya, kepedulian dan kepekaan generasi muda merupakan modal penting bagi kemajuan negara.
“Bangsa ini akan kuat jika anak mudanya peduli. Ketika generasi muda kritis dan berani bertanya, itu adalah potensi besar bagi masa depan bangsa,” ujarnya.
Di akhir sesi, Ning Lia mendorong generasi muda untuk berani menyampaikan gagasan dan tidak menunggu dukungan orang lain terlebih dahulu.
“Kita harus membangun persepsi bahwa diri kita dibutuhkan masyarakat. Jangan menunggu dukungan orang lain baru berani bersuara. Mulailah dari keyakinan bahwa kita memiliki peran,” ucap Ning Lia Istifhama.
ANIL










