Home / BERITA UTAMA / HUKRIM / Tag

Rabu, 18 Maret 2026 - 17:04 WIB

Debat, Adab, dan Panggung Popularitas

 

Oleh Prof. Dr. Yoyon Suryono, M.S.
Akademisi dan Pengamat Sosial Politik

Belakangan ini, debat di televisi tidak hanya memperlihatkan perbedaan pendapat, tetapi juga perubahan cara berdebat itu sendiri. Suara meninggi, saling menyela, hingga gestur yang cenderung konfrontatif tampil seolah menjadi bagian yang wajar.

Kita seperti menyaksikan pergeseran makna: dari debat sebagai ruang adu gagasan menjadi panggung pertunjukan. Pertanyaannya bukan lagi sekadar siapa yang benar, tetapi apakah cara berdebat seperti itu masih berada dalam koridor adab publik—atau justru telah keluar darinya?

Dalam tradisi intelektual, debat adalah cara menguji gagasan dan mendekatkan publik pada pemahaman yang lebih jernih. Adab menjadi fondasinya—bukan sekadar sopan santun, tetapi cara menjaga agar perbedaan tetap berada dalam penghormatan terhadap akal dan martabat. Tanpa adab, debat berubah dari pencarian kebenaran menjadi adu dominasi.

Baca juga  Sinergitas Korlantas Polri Bersama PT Hutama Karya Dalam Mendukung Program Pemerintah Zero Over Dimensi dan Overload 2027

Namun ketika debat masuk ke dalam logika media, terutama televisi, terjadi pergeseran. Yang menarik perhatian sering lebih diutamakan daripada yang mencerahkan. Padahal media tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga memiliki fungsi edukatif: membentuk cara publik berpikir, berbicara, dan bersikap.

Di sinilah persoalan menjadi lebih serius. Ketika debat kehilangan adab, publik tidak hanya kehilangan kualitas diskusi, tetapi juga kehilangan contoh. Yang dipelajari bukan lagi bagaimana menyusun argumen, melainkan bagaimana memenangkan kesan.

Dimensi popularitas dan ekonomi ikut memperkuat gejala ini. Dalam ekosistem media, kontroversi sering lebih “terlihat” daripada ketenangan, dan emosi lebih “menjual” daripada kedalaman. Debat pun berisiko bergeser menjadi performa, bukan proses berpikir.

Baca juga  Kolaborasi Polda Jatim dengan Da'i Kamtibmas Ciptakan Pilkada Jawa Timur Damai dan Aman

Akibatnya, ruang publik dipenuhi percakapan yang reaktif dan dangkal. Perbedaan tidak lagi dikelola sebagai kekayaan, tetapi sebagai pemicu konfrontasi.

Karena itu, keteladanan menjadi kunci. Mereka yang tampil di ruang publik bukan hanya membawa gagasan, tetapi juga memperlihatkan cara berinteraksi. Publik belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan, tetapi dari bagaimana sesuatu dikatakan.

Pada akhirnya, media tidak hanya memantulkan realitas, tetapi juga membentuknya. Cara debat ditampilkan hari ini akan menjadi cara masyarakat berkomunikasi esok hari.

Sebab ketika debat kehilangan adab, yang tergerus bukan hanya kualitas percakapan—melainkan juga cara kita menghargai perbedaan.

Dan ketika keteladanan hilang dari ruang publik, masyarakat perlahan belajar bahwa cara berbicara lebih penting daripada isi yang dibicarakan.[]

Share :

Baca Juga

Artikel

Polisi Humanis, Jujur dan Tegas Anggota Polres Gresik yang Tilang Istrinya

Artikel

Satuan Binmas Polres Pulang Pisau Sambangi Warga untuk Sampaikan Imbauan Bahaya Karhutla

Artikel

Pemkot Tegal Terima LHP BPK

Artikel

Atlet Taekwondo Polri Koleksi Emas, Perak dan Perunggu di PON XXI Aceh Sumut

Artikel

Dishub Batu Gelar (FLLAJ), Antisipasi Kemacetan Jalan Di Masa Liburan

Artikel

Personil Polsek Kahayan Kuala giat KRYD berupa Patroli Kamtibmas guna Cegah Kriminalitas.

BERITA UTAMA

Polisi Cilik Kota Batu, Siap Berlomba Dalam Rangkaian Hari Bhayangkara Ke-80

BERITA UTAMA

Kompaknya MC 3 Matra, di Malam Pengantar Tugas Diktukpa TNI TA 2026