Surabaya, – Senja di penghujung Ramadhan 1447 Hijriah terasa berbeda. Di tengah hiruk pikuk Jalan Ahmad Yani, tepat di depan Kantor Bank BNI sebelah Cito Mall, ratusan tangan terulur, bukan sekadar menerima takjil, tetapi juga merasakan hangatnya kepedulian.
Hari ke-30 Ramadhan menjadi penutup perjalanan panjang MAKI Jawa Timur dalam menebar kebaikan. Sebanyak 250 paket takjil kembali dibagikan, terdiri dari nasi campur suwir ayam, kurma, es melon dengan irisan blewah segar, serta gorengan lumpia dan siomay. Namun lebih dari sekadar makanan, yang dibagikan adalah rasa cinta, kepedulian, dan harapan.
Ketua MAKI Jawa Timur, Heru Satrio, dengan penuh rasa syukur menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan selama Ramadhan tahun ini telah berjalan dengan lancar.
“Alhamdulillah… ini bukan hanya tentang berbagi makanan. Ini tentang bagaimana kita bisa hadir untuk sesama, terutama mereka yang membutuhkan, di bulan penuh berkah ini,” ucapnya lirih.
Selama satu bulan penuh, tanpa henti, MAKI Jatim membagikan 250 paket takjil setiap hari. Sebuah komitmen yang bukan ringan, namun dijalani dengan keikhlasan.
Tak hanya itu, kebahagiaan juga dibagikan kepada ratusan anak yatim piatu. Tangis haru dan senyum polos mereka mewarnai santunan yang diberikan kepada 100 anak di Kalanganyar Sidoarjo, 550 anak di sekretariat MAKI Jatim, hingga 132 anak di Bangsalsari, Jember. Bahkan, di tengah keterbatasan, MAKI Jatim juga menyapa para janda lanjut usia dengan bingkisan sederhana yang penuh makna.
Momen buka puasa bersama dengan lebih dari 1.300 paket makanan menjadi saksi betapa kebersamaan mampu menghapus sekat, menghadirkan kehangatan seperti keluarga.
Tak lupa, perhatian juga diberikan kepada para mitra media dan organisasi yang selama ini berjalan bersama. Bingkisan parcel menjadi simbol terima kasih atas kebersamaan yang terjalin.
Dalam setiap langkahnya, Heru Satrio menyadari bahwa semua ini tidak akan terwujud tanpa uluran tangan para donatur dan dukungan berbagai pihak.
“Kami hanyalah perantara. Kebaikan ini adalah milik semua yang telah membantu dengan tulus. Semoga Allah membalas dengan rezeki yang berlipat dan keberkahan yang tak terhingga,” tuturnya penuh harap.
Kini, Ramadhan pun perlahan pergi. Menyisakan kenangan, pelajaran, dan jejak kebaikan yang tak akan pernah hilang.
“Dengan segala kekurangan kami, izinkan kami menutup rangkaian ini. Bismillah… semoga kita semua dipertemukan kembali dengan Ramadhan berikutnya, dalam keadaan sehat, dengan hati yang lebih bersih, dan iman yang lebih kuat. Amin Ya Rabb,” pungkas Heru.
Di penghujung senja itu, mungkin tak semua kata terucap. Namun satu hal yang pasti—kebaikan yang ditanam, akan selalu menemukan jalannya untuk kembali.










