Surabaya, – Anggota DPD RI Lia Istifhama menekankan pentingnya penguatan riset dan teknologi untuk meningkatkan produktivitas pertanian nasional, khususnya komoditas tebu yang dinilai masih tertinggal dibanding negara lain.
Hal tersebut disampaikan saat kunjungannya ke Kantor Perhutani Jawa Timur di kawasan Genteng Kali, Surabaya, Kamis (27/3/2026). Dalam agenda tersebut, ia disambut Direktur Utama Tio Handoko, Direktur Komersial Anggar Widiyatmoko, serta Direktur SDM, Umum, dan IT Andus Winarno.
Dalam keterangannya, Lia menyoroti ironi di sektor pertanian nasional. Di tengah kerja keras petani, produktivitas dalam negeri masih belum mampu bersaing dengan negara seperti Brasil, Thailand, dan India.
“Petani kita sudah bekerja keras, tapi hasilnya belum maksimal karena teknologi dan risetnya belum optimal. Ini yang harus dibenahi,” ujar Lia.
Ia mengungkapkan, produktivitas gula nasional, baik dari sisi rendemen maupun hasil per hektare, masih jauh dari standar global. Di beberapa negara, satu hektare lahan mampu menghasilkan lebih dari 10 ton gula, sementara Indonesia masih tertinggal.
Menurutnya, kondisi ini bukan semata karena luas lahan, melainkan kualitas produksi yang belum didukung inovasi yang memadai. Negara lain mampu menekan biaya produksi dengan teknologi maju, sehingga tetap kompetitif meski harus mengekspor ke Indonesia.
Lia juga menekankan pentingnya peran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam menghadirkan riset yang lebih aplikatif dan tepat sasaran.
“Riset kita harus membumi. Jangan hanya teori, tapi benar-benar menjawab kebutuhan petani, mulai dari kualitas bibit, efisiensi pupuk, hingga mekanisasi,” tegasnya.
Selain itu, ia mendorong percepatan modernisasi pertanian melalui penggunaan teknologi seperti mekanisasi tanam dan pemupukan berbasis drone yang dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus hasil panen.
Sementara itu, Direktur Utama Perhutani Tio Handoko menyatakan optimisme bahwa dengan dukungan riset dan teknologi yang tepat, produktivitas pertanian nasional dapat meningkat signifikan serta mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Ia juga menilai Indonesia perlu belajar dari negara-negara kawasan seperti Vietnam dan Myanmar yang berhasil meningkatkan kualitas komoditas melalui riset terarah.
Dengan penguatan riset, modernisasi, serta kebijakan berbasis data, diharapkan persoalan produktivitas yang selama ini membayangi petani tebu dapat diatasi, sekaligus mendorong terwujudnya kemandirian pertanian nasional.
Anil










