Jakarta – Momentum Hari Lahir ke-76 Fatayat NU menjadi refleksi penting atas perjalanan panjang gerakan perempuan muda Nahdlatul Ulama—dari langkah-langkah sunyi hingga menjelma sebagai kekuatan peradaban yang memberi dampak luas.
Anggota DPD RI, Lia Istifhama, menegaskan bahwa Fatayat NU tidak lagi cukup dipahami sekadar organisasi perempuan. Lebih dari itu, Fatayat adalah representasi keteguhan perempuan dalam merawat tradisi sekaligus menjawab tantangan zaman.
“Fatayat NU bukan hanya ruang berhimpun, tetapi ruang bertumbuh. Ia mempertemukan iman, tradisi, dan keberanian dalam satu gerak yang hidup,” ujar Ning Lia dalam keterangannya, Jumat (24/4).
Ia menjelaskan, embrio Fatayat NU telah muncul sejak Muktamar NU ke-15 di Surabaya pada 1940. Saat itu, perempuan muda memang hanya terlibat dalam kepanitiaan. Namun dari ruang sederhana itu lahir kesadaran besar bahwa perempuan adalah bagian tak terpisahkan dari denyut umat.
Kesadaran tersebut semakin menguat pada periode 1946–1949 ketika perempuan muda mulai masuk dalam struktur Muslimat NU. Di berbagai daerah seperti Surabaya, Gresik, Sidoarjo, hingga Pasuruan, tokoh-tokoh seperti Murthosiyah, Ghuzaimah Mansur, dan Aminah mulai menggerakkan pemudi NU secara lebih terorganisir.
“Gerakan besar selalu lahir dari kesunyian. Fatayat tumbuh dari kerja-kerja yang mungkin tak terlihat, tetapi mengakar kuat di tengah masyarakat,” imbuhnya.
Tonggak penting terjadi pada 1950 ketika Fatayat NU resmi menjadi badan otonom. Sejak itu, gerakan ini berkembang pesat ke berbagai wilayah di Indonesia. Penerbitan majalah Melati pada 1951 menjadi simbol bahwa perempuan NU tidak hanya bergerak, tetapi juga mulai menulis sejarahnya sendiri.
Dalam perjalanannya, Fatayat juga menunjukkan ketangguhan menghadapi dinamika bangsa. Pada era 1960-an, pembentukan Fatser (Fatayat Serbaguna) menjadi bukti kesiapan kader, baik secara fisik maupun mental, dalam menjaga ideologi bangsa.
Memasuki era 1970–1980-an, Fatayat terus beradaptasi melalui regenerasi kepemimpinan, ekspansi organisasi, serta pengembangan potensi kader di bidang seni dan kreativitas tanpa meninggalkan nilai keislaman.
“Fatayat mengajarkan bahwa modernitas tidak harus memutus akar tradisi. Justru dari tradisi itulah lahir kekuatan yang relevan sepanjang zaman,” jelasnya.
Di era reformasi hingga globalisasi, Fatayat NU memperluas jejaring hingga ke tingkat internasional. Dari ruang-ruang lokal, kini Fatayat hadir dalam percakapan global tentang perempuan, kemanusiaan, dan keadilan.
Pada usia ke-76, Fatayat dinilai semakin dekat dengan kebutuhan nyata perempuan—mulai dari isu kesehatan ibu dan anak, pendampingan korban kekerasan, hingga literasi digital.
“Fatayat tidak hanya berbicara dalam wacana, tetapi hadir dalam tindakan. Di situlah letak kekuatannya,” tegas Ning Lia.
Ia menambahkan, nilai-nilai Islam menjadi fondasi utama gerakan ini, termasuk prinsip al-muhafadhah ‘ala al-qadim as-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah—menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.
Mengutip pemikiran tokoh seperti Nawal El Saadawi dan Fatima Mernissi, Lia menekankan bahwa pemberdayaan perempuan harus berakar pada akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan ruang berpikir kritis.
“Fatayat NU sejalan dengan itu. Pemberdayaan perempuan bukan soal meninggalkan identitas, tetapi justru menguatkannya agar mampu berdiri setara dan berdaya,” ujarnya.
Ke depan, ia menilai Fatayat NU harus memperkuat kepemimpinan perempuan, mencegah kekerasan, serta mendorong pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. Literasi digital dan ketahanan keluarga juga menjadi agenda strategis.
“Fatayat NU harus menjadi inkubator pemimpin perempuan—tempat lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas dan berkeadaban,” katanya.
Menurutnya, Fatayat NU memiliki keunggulan sebagai representasi Islam moderat, inklusif, dan berkemajuan, sehingga berpotensi menjadi jembatan peradaban di tingkat global.
“Fatayat NU tidak cukup hanya menjadi organisasi perempuan. Ia harus menjadi gerakan ilmu, gerakan sosial, sekaligus gerakan peradaban. Karena ketika perempuan bergerak dengan nilai, pengetahuan, dan keberanian, yang lahir bukan hanya perubahan—tetapi masa depan,” pungkasnya.
Anil










