TARGETNEWS.ID LAMONGAN – Transformasi sebuah lembaga pendidikan bukan sekadar perubahan nama atau status kelembagaan. Lebih dari itu, perubahan tersebut menjadi penanda lahirnya harapan baru bagi masa depan generasi dan masyarakat di sekitarnya.
Pesan itulah yang mengemuka dalam acara Launching dan Simposium Transformasi Universitas Tarbiyatut Tholabah (UNITABAH) Lamongan di Desa Kranji, Kecamatan Paciran, kemarin. Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Hj. Lia Istifhama, S.Sos.I., S.Sos., S.H.I., M.E.I., hadir menyampaikan pidato kebangsaan sekaligus menitipkan harapan besar bagi perjalanan baru kampus yang tumbuh di kawasan pesisir Pantura tersebut.
Senator yang akrab disapa Ning Lia itu menilai perguruan tinggi memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar mencetak lulusan. Kampus, menurutnya, harus mampu menjadi ruang tumbuh bagi karakter, kepemimpinan, serta kesadaran generasi muda dalam menghadapi perubahan zaman.
Bagi masyarakat pesisir, kehadiran UNITABAH sebagai universitas juga diharapkan dapat membuka ruang yang semakin luas bagi lahirnya sumber daya manusia unggul tanpa harus tercerabut dari nilai-nilai lokal dan keislaman yang telah mengakar kuat.
“Pendidikan memiliki peran penting dalam membangun peradaban bangsa. Saya berharap UNITABAH dapat menjadi penguat pendidikan bagi masyarakat pesisir melalui pembentukan karakter kepemimpinan, literasi hukum, serta literasi digital bagi mahasiswa sebagai bekal menjadi generasi pemimpin bangsa,” tegas Lia Istifhama.
Menurut Ning Lia, tantangan generasi hari ini semakin kompleks. Kemampuan akademik saja tidak lagi cukup. Mahasiswa juga dituntut memiliki karakter kuat, pemahaman hukum, kecakapan menghadapi perkembangan teknologi, serta kepekaan terhadap persoalan sosial di tengah masyarakat.
Karena itu, transformasi UNITABAH menjadi universitas dinilai menjadi momentum penting untuk memperluas kontribusi pendidikan, khususnya bagi masyarakat Lamongan dan kawasan pesisir Jawa Timur.
Perubahan status tersebut juga tidak dimaknai sebagai langkah untuk meninggalkan identitas lama. Justru, kemajuan akademik diharapkan berjalan seiring dengan nilai-nilai pesantren dan keislaman yang selama ini menjadi fondasi perjalanan lembaga pendidikan tersebut.
Rektor UNITABAH, Dr. Alimul Muniroh, M.Ed., menegaskan bahwa peresmian universitas bukan sekadar seremoni atau perayaan administratif. Ada tanggung jawab moral dan akademik yang semakin besar di balik perubahan tersebut.
“Peresmian ini bukan sekadar perayaan kelahiran universitas, melainkan peneguhan atas proses panjang yang telah dilalui. Status universitas membawa tanggung jawab untuk memperkuat integrasi keilmuan, membangun daya saing global, serta tetap dekat dengan masyarakat. Di tengah langkah maju tersebut, nilai-nilai pesantren dan keislaman tetap menjadi roh dan fondasi UNITABAH,” ungkap Alimul Muniroh.
Pernyataan tersebut menggambarkan arah perjalanan UNITABAH ke depan: menjadi perguruan tinggi yang terus bergerak maju mengikuti perkembangan zaman, namun tetap berpijak pada akar nilai dan tradisi yang membesarkannya.
Bagi Ning Lia, pendidikan yang kuat adalah pendidikan yang mampu melahirkan manusia-manusia berilmu sekaligus memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan sosialnya. Dari ruang-ruang kelas, kampus diharapkan dapat melahirkan pemimpin, inovator, dan penggerak masyarakat yang membawa manfaat nyata.
Transformasi UNITABAH pun menjadi simbol harapan baru. Dari kawasan pesisir Lamongan, sebuah kampus diharapkan tidak hanya tumbuh menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi penguat peradaban dan tempat lahirnya generasi yang siap membawa Indonesia menghadapi masa depan.
Dengan semangat keilmuan, nilai pesantren, dan kedekatan dengan masyarakat, UNITABAH kini menapaki babak baru. Sebuah perjalanan yang bukan hanya tentang menjadi universitas, melainkan tentang memperluas manfaat dan menyiapkan generasi untuk ikut membangun bangsa.
(Anil)










