TARGETNEWS.ID SEMARANG — Festival Literasi Jawa Tengah 2026 menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem literasi melalui kolaborasi lintas sektor. Kegiatan ini mendorong tumbuhnya budaya membaca, menulis, sekaligus kemampuan berpikir kritis di tengah masyarakat.
Festival yang digelar di Uptown Mall BSB City, Semarang, Jumat (11/9/2026), tersebut dihadiri Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, Bunda Literasi Provinsi Jawa Tengah Hj. Nawal Nur Arafah, M.Si., para Bunda Literasi kabupaten/kota se-Jawa Tengah, termasuk Bunda Literasi Kota Tegal Gadis Dedy Yon, serta Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono, S.E., M.M.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, Rahmah Nur Hayati, mengatakan festival tersebut menjadi sarana untuk kembali menggelorakan budaya membaca, menulis, dan berpikir kritis masyarakat.
Menurutnya, festival juga menjadi ruang pertemuan dan kolaborasi berbagai elemen untuk membangun ekosistem literasi yang kuat serta berkelanjutan.
Mengusung tema “Bergerak Bareng Membangun Literasi di Jawa Tengah” dengan slogan “Ngopeni Budaya, Lakoni Literasi”, kegiatan tersebut melibatkan berbagai kelompok masyarakat. Mulai dari anak usia dini, pelajar, mahasiswa, santri, masyarakat umum, sekolah, perguruan tinggi, pesantren, pustakawan, pegiat literasi, seniman, sastrawan, penulis, penerbit, komunitas seni budaya, instansi pemerintah hingga dunia usaha.
Dalam sambutannya, Bunda Literasi Provinsi Jawa Tengah Hj. Nawal Nur Arafah menekankan perlunya transformasi perpustakaan agar semakin relevan dengan kebutuhan generasi saat ini.
Ia menilai perpustakaan tidak seharusnya hanya dipandang sebagai tempat untuk membaca buku, tetapi juga perlu dikembangkan menjadi ruang publik yang nyaman, terbuka, dan menyenangkan.
“Perpustakaan harus berani bertransformasi menjadi ruang publik yang menyenangkan. Selama ini masih ada kesan perpustakaan sebagai tempat yang penuh larangan. Padahal, generasi muda membutuhkan ruang yang lebih terbuka, nyaman, dan menyenangkan untuk belajar maupun berinteraksi,” ujarnya.
Nawal juga mendorong integrasi perpustakaan dengan ruang terbuka serta fasilitas yang lebih ramah masyarakat. Digitalisasi bahan bacaan, lanjutnya, juga perlu terus dikembangkan agar akses terhadap sumber pengetahuan semakin luas.
Di sisi lain, Nawal menyadari adanya tantangan efisiensi anggaran yang dihadapi pemerintah daerah. Namun, kondisi tersebut diharapkan tidak menghambat pelayanan dan program peningkatan literasi.
“Efisiensi anggaran menjadi tantangan bagi kita semua. Karena itu, kolaborasi harus terus diperkuat dan jangan sampai efisiensi menghentikan layanan perpustakaan keliling yang selama ini menjangkau masyarakat,” katanya.
Sebagai salah satu inovasi, Nawal mengusulkan pemanfaatan armada Trans Jateng sebagai ruang baca bergerak. Gagasan tersebut dinilai dapat mendekatkan akses literasi kepada masyarakat, khususnya pelajar yang menggunakan transportasi umum tersebut.
Ia menegaskan, literasi tidak semata-mata diukur dari seberapa banyak seseorang membaca. Lebih dari itu, literasi harus mampu membuat pengetahuan yang diperoleh menjadi dasar dalam berpikir, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupan.
“Literasi bukan sekadar banyak membaca, tetapi bagaimana pengetahuan yang diperoleh dapat menjadi tumpuan dalam berpikir dan bertindak. Mudah-mudahan festival ini menjadi momentum untuk meningkatkan budaya literasi masyarakat Jawa Tengah,” tuturnya.
Festival Literasi Jawa Tengah 2026 berlangsung selama tiga hari, mulai 11 hingga 13 September 2026. Sejumlah kegiatan disiapkan, antara lain bedah buku bersama penulis Tere Liye, workshop penguatan literasi, seminar literasi santri bersama Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, monolog, berbagai lomba literasi, serta pertunjukan seni dan budaya yang melibatkan masyarakat dari berbagai daerah di Jawa Tengah.
(Fauzi/Targetnews.id)










