Home / BERITA UTAMA / PENDIDIKAN

Minggu, 25 Oktober 2026 - 16:46 WIB

Reuni Bakti kepada Guru guru Alumni Angkatan 1985 SMA Negeri 2 Slawi Hadirkan Makna Birrulwalidain melalui Tradisi, Seni, dan Refleksi Spiritual

Slawi, TargetNews.ID Pada hari Sabtu tanggal (24Oktober 2026) Alumni Angkatan 1985 SMA Negeri 2 Slawi menggelar kegiatan Reuni Bakti kepada Guru, sebuah pertemuan lintas generasi yang tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga momentum untuk mengenang jasa para pendidik, merawat nilai-nilai luhur, dan meneguhkan kembali makna bakti kepada guru dalam perjalanan kehidupan.

Kegiatan ini digagas oleh Alumni Angkatan 1985 dan diinisiasi oleh Dr. H. Budi Joyo Santoso, SE., M.M. selaku Ketua serta Dr. H. Edi Sutarto, M.Pd. selaku Sekretaris.

Reuni tersebut dihadiri oleh 18 orang yang terdiri atas mantan guru, mantan kepala sekolah, dan kepala sekolah aktif. Selain itu, sekitar 150 alumni dari jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) turut hadir, menjadikan pertemuan ini sebagai ruang silaturahmi sekaligus penghormatan kepada para guru yang telah mengambil bagian penting dalam perjalanan hidup para alumni.

“Membasuh Kaki Guru: Simbol Kerendahan Hati dan Bakti”

Salah satu momen yang paling bermakna dalam kegiatan ini adalah prosesi membasuh dan mencuci kaki guru oleh para murid. Prosesi tersebut bukan sekadar rangkaian seremoni, melainkan simbol yang sarat makna atau semiotika tentang kerendahan hati, penghormatan, rasa syukur, dan kesadaran akan besarnya jasa seorang pendidik.

Melalui simbol tersebut, para alumni diajak untuk kembali mengingat bahwa keberhasilan seseorang tidak lahir semata-mata dari usaha pribadi. Di balik ilmu, karakter, profesi, dan pencapaian yang diraih, terdapat kontribusi orang tua, guru, serta banyak pihak yang telah membimbing dan mendidik dengan ketulusan.

Baca juga  Danramil 01/Sambas Hadiri Peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2023

Bakti kepada guru dalam kegiatan ini ditempatkan dalam semangat birrulwalidain, yakni berbakti kepada kedua orang tua, yang di perluas sebagai refleksi etis tentang penghormatan kepada para pendidik. Penghormatan kepada guru tentu tidak menyamakan kedudukan guru dengan orang tua secara hukum maupun teologis, tetapi menegaskan bahwa jasa pendidikan layak dikenang, dihargai, dan disyukuri.

Pesan utama yang ingin disampaikan sederhana, tetapi mendalam: jangan sampai kesuksesan membuat seseorang lupa kepada mereka yang pernah menuntun langkah pertamanya.

*Wayang Kulit dan Semiotika Birrulwalidain*

Nuansa filosofis reuni semakin terasa melalui pertunjukan wayang kulit berdurasi sekitar satu jam yang mengangkat tema birrulwalidain.

Pemilihan wayang kulit bukan sekadar untuk menghadirkan hiburan dan melestarikan kebudayaan. Seni tradisional ini juga menjadi medium penyampaian pesan moral melalui tokoh, cerita, dialog, dan simbol-simbol yang hidup dalam khazanah budaya masyarakat.

Dalam konteks reuni, pertunjukan wayang kulit menjadi bentuk komunikasi simbolik bahwa nilai bakti, penghormatan, keteladanan, dan rasa terima kasih perlu terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Jika prosesi membasuh kaki guru menyampaikan pesan melalui tindakan nyata, wayang kulit menyampaikan pesan melalui seni dan narasi. Keduanya bertemu pada satu gagasan: pendidikan bukan hanya tentang transfer pengetahuan, melainkan juga pewarisan nilai dan pembentukan karakter.

Baca juga  Kapolda Jatim Pantau Langsung Pencarian Korban Kapal Tenggelam di Selat Bali

Dengan demikian, Reuni Bakti kepada Guru menjadi ruang pembelajaran bersama bahwa tradisi, seni, dan perjumpaan antargenerasi dapat menjadi sarana merawat kesadaran moral di tengah kehidupan modern.

“Hakikat Hidup, Kematian, dan Energi Cinta”

Di antara rangkaian acara, DR. H. Edi Sutarto, M.Pd. menyampaikan refleksi spiritual bertajuk “Hakikat Hidup”. Dalam sekapur sirih tersebut, ia mengajak para alumni untuk memandang kehidupan secara lebih mendalam melalui tadabbur QS Al-‘Ankabut ayat 57 dan sebuah ungkapan sufistik yang dinisbatkan kepada Jalaluddin Rumi, “Hidup ini hanya sepanjang setengah tarikan napas, maka jangan tanam sesuatu kecuali cinta”.

Betapa hidup begitu singkat, maka bila dikorelasikan dengan quotes Rumi, hakikat hidup adalah mencari kualitas cara pulang. Ini berkorelasi dengan firman
Allah Swt dalam QS Al-‘Ankabut ayat 57:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan”.

Oleh sebab itu, dalam reuni ini, energi yang dihidupkan adalah energi cinta. Utamanya cinta murid kepada para gurunya yang telah memberikan andil besar dalam kehidupan para muridnya. Ini hakikatnya adalah wujud rasa syukur yang mendalam.(Fauzi/Targetnews.id)

Share :

Baca Juga

Artikel

Satgas TMMD Kodim 1002/HST Bantu Petani Panen Tomat di Pengambau Hilir Luar

BERITA UTAMA

Awali Tugas, Kabag Ops Palangka Raya Pimpin Apel

Artikel

Polisi Amankan Tersangka Pencabulan Anak Dibawah Umur di Pamekasan

BERITA UTAMA

Petinju Kelas Dunia IBF. ANIS’ROGA Kelahiran ENDE FLORES NTT. Bersama Masyarakat Dukung Calon Bupati Baru Dari Partai GERINDRA Di Periode 2024/2029

Artikel

Danrem 071/Wijayakusuma Pimpin Serah Terima Jabatan Dandim 0711/Pemalang dan Penyerahan Jabatan Kasi Intel Korem 071/Wijayakusuma

BERITA UTAMA

Kapolres Tegal Kota Pimpin Apel Gelar Pasukan Operasi Keselamatan Lalu Lintas Candi Tahun 2023

Artikel

Operasi Pekat 2024 Polres Blitar Kota Berhasil Bongkar TPPU Modus Prostitusi Online

BERITA UTAMA

Sinergi Kodim 1008/Tabalong, BPBD dan Pertamina EP Tanjung Salurkan Enam Tangki Air Bersih untuk Warga Walangkir