Home / BERITA UTAMA / HUKUM / KRIMINAL

Jumat, 6 November 2026 - 16:13 WIB

AZAN BERKUMANDANG DI CAPPADOCIA, HATI PUN TERTUNDUK! Kepala SMK MUDISA Irvandy Andriansyah Petik Hikmah Kehidupan dari Khutbah Jumat di Turki

CAPPADOCIA, TURKIYE – Perjalanan internasional ke Turki tidak hanya menghadirkan pengalaman menjelajahi keindahan alam, mengenal sejarah peradaban, dan memperluas wawasan pendidikan. Ada sebuah momen spiritual yang begitu berkesan dan menyentuh hati. Di tengah rangkaian perjalanan bersama rombongan Muhammadiyah Kota Surabaya, Kepala SMK Muhammadiyah 1 Surabaya (SMK MUDISA), Irvandy Andriansyah, S.T., M.T., berkesempatan menunaikan ibadah Salat Jumat di Harem Mosque, Cappadocia, Turki, Jumat (6 November 2026).

Suasana khusyuk terasa ketika azan Jumat berkumandang. Di negeri yang memiliki sejarah panjang peradaban Islam tersebut, Irvandy bersama rombongan mengikuti rangkaian ibadah Jumat, mendengarkan khutbah, hingga melaksanakan salat berjamaah.

Sebuah pengalaman yang mungkin terlihat sederhana, tetapi menyimpan makna luar biasa. Ribuan kilometer dari Indonesia, di tengah perbedaan bahasa dan budaya, panggilan Allah tetap menyatukan umat Islam dalam satu ikatan iman.

Di tengah perjalanan mengunjungi berbagai tempat bersejarah di Turki, momen di Harem Mosque menjadi pengingat bahwa perjalanan manusia bukan hanya tentang menjelajahi dunia, tetapi juga tentang memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta.

Khutbah Cemil Usta: Hidup Adalah Ladang Ibadah dan Kebaikan

Khutbah Jumat disampaikan oleh seorang khatib bernama Cemil Usta. Dalam khutbahnya, ia mengangkat tema yang sangat mendasar sekaligus relevan dengan kehidupan umat Islam, yakni tentang hakikat ibadah, ketakwaan, dan pentingnya menjadikan seluruh aktivitas kehidupan sebagai amal saleh.

Cemil Usta mengingatkan bahwa ibadah merupakan bentuk nyata penghambaan manusia kepada Allah SWT. Ibadah bukan sekadar ritual yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu, melainkan harus menjadi bagian dari seluruh perjalanan kehidupan.

Ia menjelaskan bahwa salat merupakan tiang agama yang mampu mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar, membersihkan jiwa, serta menghadirkan ketenteraman hati.

Puasa mengajarkan ketakwaan, kesabaran, dan kepedulian terhadap penderitaan sesama. Zakat membersihkan harta dan jiwa dari sifat kikir, sedangkan ibadah haji mengajarkan persaudaraan, kesetaraan, pengendalian diri, dan menjauhkan manusia dari permusuhan.

Namun, ada pesan yang sangat menarik dari khutbah tersebut. Cemil Usta menegaskan bahwa setiap aktivitas kebaikan yang dilakukan dengan niat mengharapkan rida Allah SWT juga merupakan ibadah.

Bekerja mencari nafkah dengan cara halal, berdagang dengan jujur, belajar, mengajar, menjaga hubungan keluarga, membantu tetangga, memperhatikan anak yatim, hingga membantu orang yang sedang mengalami kesulitan merupakan bagian dari amal saleh.

Bahkan, sebuah senyuman, menyingkirkan sesuatu yang membahayakan orang lain dari jalan, serta mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan juga merupakan sedekah.

Pesan tersebut memperlihatkan betapa luasnya makna ibadah dalam Islam. Kehidupan seorang muslim seharusnya senantiasa dipenuhi dengan kebaikan, kepedulian, dan kebermanfaatan.

Ayat Al-Qur’an yang Menggetarkan Hati: Allah Menjanjikan Kehidupan yang Baik

Salah satu bagian khutbah yang memberikan kesan mendalam adalah ketika Cemil Usta membacakan firman Allah SWT dalam Surah An-Nahl ayat 97:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya:

“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.”

Ayat tersebut memberikan pesan bahwa kebahagiaan sejati tidak semata-mata diukur dari kekayaan, jabatan, popularitas, maupun keberhasilan duniawi. Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang dipenuhi keimanan, amal saleh, ketenangan hati, kebermanfaatan, dan keberkahan dari Allah SWT.

Khatib juga mengutip sabda Rasulullah Muhammad SAW:

إِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.”

Pesan ini mengajak umat Islam untuk tidak hanya bersemangat melakukan kebaikan sesaat, tetapi membangun kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten sepanjang kehidupan.

Irvandy Andriansyah: Pendidikan Tidak Cukup Hanya Mencetak Generasi Pintar

Usai mengikuti Salat Jumat, Irvandy Andriansyah menyampaikan bahwa pengalaman beribadah di Turki memberikan kesan tersendiri. Baginya, perjalanan internasional bukan sekadar kesempatan melihat keindahan alam, mengenal budaya, mengunjungi bangunan bersejarah, atau menjalin kerja sama pendidikan antarnegara.

Lebih dari itu, perjalanan juga harus menjadi sarana memperkuat keimanan dan memperluas perspektif kehidupan.

“Alhamdulillah, di tengah perjalanan kami di Turki, Allah memberikan kesempatan untuk menunaikan Salat Jumat di Harem Mosque, Cappadocia. Ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Kita berada jauh dari Indonesia, tetapi ketika azan berkumandang, ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan, dan seluruh jamaah berdiri dalam satu saf, terasa sekali bahwa umat Islam adalah satu keluarga besar,” ungkap Irvandy.

Ia juga mengaku mendapatkan banyak pelajaran dari khutbah yang disampaikan Cemil Usta, terutama tentang bagaimana menjadikan pekerjaan dan seluruh aktivitas kehidupan sebagai ladang ibadah.

Menurutnya, pesan tersebut sangat relevan dengan dunia pendidikan, khususnya pendidikan kejuruan yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik dan keterampilan teknis, tetapi juga pembentukan karakter.

“Pendidikan tidak cukup hanya mencetak anak-anak yang pintar, memiliki keterampilan, dan siap bekerja. Kita harus membentuk generasi yang beriman, berakhlak mulia, jujur, amanah, peduli kepada sesama, serta memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan dan masa depannya,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat SMK MUDISA dalam melahirkan generasi unggul dalam prestasi, berakhlakul karimah, terampil, mandiri, dan berdaya saing global.

“Jangan sampai kita hanya mengejar kesuksesan dunia, tetapi melupakan tujuan akhir kehidupan. Jadilah generasi yang hebat dalam ilmu, unggul dalam keterampilan, kuat dalam iman, santun dalam perilaku, serta selalu memberikan manfaat bagi orang lain,” tambahnya.

Dari Cappadocia untuk Generasi Muda Indonesia

Bagi Irvandy, pesan khutbah Jumat di Turki juga menjadi refleksi penting bagi para guru, tenaga kependidikan, peserta didik, dan seluruh keluarga besar SMK MUDISA.

Guru harus menjadikan profesinya sebagai ladang ibadah. Siswa harus menjadikan belajar sebagai bentuk ikhtiar meraih masa depan. Orang tua harus mendidik dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab. Sementara setiap pemimpin harus menjalankan amanah dengan kejujuran dan ketulusan.

Kesuksesan pendidikan bukan hanya ketika peserta didik memperoleh pekerjaan setelah lulus, melainkan ketika mereka tumbuh menjadi manusia yang mampu menjaga kehormatan diri, membahagiakan orang tua, bekerja secara profesional, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

Inilah makna pendidikan yang sesungguhnya: membangun kecerdasan sekaligus membentuk kepribadian, mengembangkan keterampilan sekaligus menguatkan keimanan.

Sejauh Apa Pun Melangkah, Jangan Pernah Melupakan Allah

Cappadocia memiliki pesona alam yang luar biasa. Lembah bebatuan, bangunan bersejarah, dan balon udara yang menghiasi langit menjadi daya tarik yang dikenal hingga berbagai belahan dunia.

Namun, bagi seorang muslim, ada keindahan yang jauh lebih menenteramkan daripada seluruh pesona dunia: berada di dalam masjid, bersujud, berdoa, dan merasakan kedekatan dengan Allah SWT.

Di Harem Mosque, sebuah pelajaran kehidupan kembali diteguhkan. Bahwa perjalanan manusia bukan hanya tentang seberapa jauh tempat yang telah dikunjungi, seberapa banyak pengalaman yang dikumpulkan, atau seberapa tinggi jabatan yang berhasil diraih.

Tetapi juga tentang seberapa kuat iman yang dijaga, seberapa banyak kebaikan yang dilakukan, dan seberapa besar manfaat yang diberikan kepada sesama.

Salat Jumat di Cappadocia menjadi salah satu momen paling bermakna dalam perjalanan Irvandy Andriansyah di Turki. Sebuah perjalanan yang bukan hanya memperluas wawasan internasional, tetapi juga menguatkan keyakinan bahwa Islam menyatukan manusia melampaui batas negara, bahasa, budaya, dan perbedaan bangsa.

Dari Surabaya menuju Turki, dari perjalanan dunia menuju perenungan akhirat. Sejauh apa pun langkah kaki membawa kita, jangan pernah menjauhkan hati dari Allah SWT.

Semoga setiap perjalanan menjadi ilmu, setiap pertemuan menjadi persaudaraan, setiap pekerjaan menjadi ibadah, dan setiap langkah kehidupan selalu berada dalam rida Allah SWT.

SMK MUDISA – Unggul dalam Prestasi, Berakhlakul Karimah, Terampil, Mandiri, dan Berdaya Saing Global.

Share :

Baca Juga

BERITA UTAMA

Wajah Baru Penimbunan Solar Bangunan Sepi di Desa Jenarsari Kendal Simpan BBM Bersubsidi Secara Ilegal.

BERITA UTAMA

Komandan Kodim 1208/Sambas menghadiri pelaksanakan Rapat Bersama Forkopimda Kabupaten Sambas

BERITA UTAMA

Cegah Karhutla Sejak Dini, Siswa Seskoad 2026 Berikan Penyuluhan kepada Masyarakat Desa Nateh

BERITA UTAMA

Tak Ada Waktu Terbuang, Satgas TMMD Bagi Personel Percepat Plesteran Dinding dan Pemasangan Rangka Atap

BERITA UTAMA

Wajah Baru Mushola Istiqomah, Satgas TMMD Ganti Kubah Lama dengan yang Baru

Artikel

Sempurnakan Lantai Dasar Jembatan, Satgas TMMD Lanjutkan Pengecoran

BERITA UTAMA

Perkuat Keamanan dan Kerapian, Satgas TMMD Pasang Kastin dan Pagar Pembatas di Sasaran Box Culvert

BERITA UTAMA

Melalui Edukasi di Sekolah, Pasis Seskoad Bangun Kepedulian Generasi Muda terhadap Karhutla