Surabaya, Obor Kebangkitan Nasional belum padam. Di Surabaya, Rabu (20/5/2026), obor itu dijaga lewat ikrar sunyi, melindungi tunas bangsa dari racun zaman bernama narkoba.
Pesan itu disuarakan Kasat Narkoba Polrestabes Surabaya, AKBP Dodi Pratama, S.I.K. Baginya, Harkitnas ke-118 bukan sekadar upacara. Ia alarm yang mengoyak selimut lupa.
“Kedaulatan tak hanya dijaga di tapal batas. Ia dijaga di nadi generasi muda yang rentan disusupi narkotika,” tegas AKBP Dodi.
Penjajahan Berubah Wajah
Dua puluh Mei 1908, Boedi Oetomo menanam benih kesadaran. Seratus delapan belas tahun kemudian, rimba kesadaran itu diuji. Jika dulu penjajahan datang dengan bedil dan rantai, kini ia menyelinap lewat serbuk, pil, dan jarum yang menggerogoti sumsum harapan.
“Jaga tunas bangsa demi kedaulatan negara bukan untaian kata. Ia janji. Ia laku,” ujar Dodi, teduh namun menghujam. “Masa depan Indonesia bertumpu pada pemuda yang sehat raganya, jernih nalarnya, dan merdeka dari narkoba.”
Sebab itu ia menyeru: jadikan Harkitnas sebagai cermin. Bercermin, lalu berbenah. Kuatkan karakter. Jauhkan narkoba. Rawat persatuan yang rapuh diterpa badai zaman.
“Bangsa yang besar tidak lahir dari sorak. Ia lahir dari pemuda yang bermoral, berdisiplin, berwawasan kebangsaan, dan berani menolak apa pun yang membusukkan jiwa,” katanya.
Tiga Jurus Surabaya: Edukasi, Cegah, Tindak
Ancaman hari ini tak bersuara. Ia musuh dalam selimut. Mengendap di gang sempit, bangku sekolah, hingga layar gawai. Namanya narkoba. Bisa melumpuhkan satu angkatan tanpa letusan.
Satresnarkoba Polrestabes Surabaya menjawab dengan tiga jurus. Pertama, semai edukasi ke sekolah, kampus, hingga langgar. Kedua, teguhkan pencegahan lewat kampung tangguh bebas narkoba. Ketiga, tindak tanpa ragu di tiap lorong tempat racun diedarkan.
Kerja Sunyi untuk Kedaulatan
Harkitnas ke-118 mengingatkan: perjuangan belum usai. Di tengah deras globalisasi dan gemerlap teknologi, kompas kita tetap sama. Kebangsaan, gotong royong, dan kepedulian. Tanpa itu, Indonesia hanya nama di peta.
Dengan napas “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”, Polrestabes Surabaya mengetuk pintu kesadaran kolektif. Menjaga generasi penerus bukan tugas polisi seorang. Ia kerja sunyi semua yang masih cinta negeri ini.
“Karena pada akhirnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang berani menjaga tunasnya sendiri. Agar esok, Indonesia tak sekadar merdeka, tapi juga berdaulat dalam pikir, laku, dan nurani,” pungkas AKBP Dodi.
(Samsul)










