Slawi, TargetNews.ID Kepala sekolah dan guru TK/PAUD, SD, dan SMP se-Kabupaten Tegal dibekali literasi keuangan agar dapat menanamkannya kepada siswa sejak dini dalam Financial Class di Pendopo Amangkurat, Kamis (29/10/2026).
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman tenaga pendidik sekaligus mendorong penanaman literasi keuangan kepada peserta didik sejak dini. Materi yang disampaikan mencakup pengelolaan keuangan, pemahaman produk dan layanan jasa keuangan, serta pencegahan kejahatan keuangan digital.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Tegal Akhmad Uwes Qoroni, yang hadir mewakili Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman, menekankan bahwa literasi keuangan merupakan kecakapan hidup yang penting dikenalkan sejak anak-anak, terutama di tengah perkembangan teknologi digital.
Literasi keuangan bukan sekadar kemampuan menghitung uang atau mengetahui cara menabung,” ujar Uwes.
Menurut dia, cakupannya meliputi kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, menyusun prioritas pengeluaran, membiasakan menabung, hingga memahami risiko layanan keuangan.
Uwes berharap para peserta meneruskan pengetahuan itu kepada guru, peserta didik, dan orang tua. Sekolah, katanya, memiliki peran strategis dalam membangun kebiasaan mengelola uang secara bijak sekaligus melindungi anak dari risiko keuangan.
Dari sisi lembaga keuangan, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tegal Kurnia Tri Puspita menyebut peningkatan literasi keuangan perlu berjalan seiring dengan perluasan akses terhadap produk dan layanan keuangan. Merujuk Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, indeks literasi keuangan tercatat 69,57 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen.
Selisih kedua angka itu, menurut Kurnia, menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan belum sepenuhnya diikuti pemahaman yang memadai tentang produk yang digunakan. Kondisi ini dapat meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap penipuan, pinjaman ilegal, dan tawaran investasi yang merugikan.
Memiliki rekening atau menggunakan layanan keuangan belum tentu berarti seseorang memahami produk yang digunakannya,” jelas Kurnia.
Karena itu, OJK mendorong tenaga pendidik menjadi agen literasi keuangan dengan meneruskan edukasi kepada peserta didik dan masyarakat. Salah satu upaya yang didorong adalah program Satu Rekening Satu Pelajar, yang diharapkan membantu anak mengenal layanan perbankan, menetapkan tujuan keuangan, dan membangun kebiasaan menabung secara teratur.
Di tengah kerentanan tersebut, Kurnia mengingatkan masyarakat agar segera melaporkan dugaan penipuan transaksi keuangan melalui Indonesia Anti-Scam Center (IASC) di iasc.ojk.go.id. Pelaporan yang cepat diperlukan untuk membantu penelusuran aliran dana dan penanganang rekening terkait sesuai kewenangan masing-masing pihak. Meski demikian, pengembalian dana korban tidak dapat dijamin karena bergantung pada kondisi dan hasil penanganan kasus.
Dari sisi penegakan hukum, Kepala Kepolisian Resor (Polres) Tegal AKBP Febriyani Aer mengingatkan para peserta agar lebih waspada terhadap pinjaman online ilegal, judi online, dan penipuan digital. Menurut dia, kemajuan teknologi memudahkan transaksi, tetapi juga dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk menipu dan menyalahgunakan data pribadi masyarakat.
Febriyani mengimbau masyarakat tidak mudah tergiur tawaran pinjaman, hadiah, atau keuntungan besar yang tidak jelas kebenarannya. Masyarakat juga diminta tidak sembarangan memberikan data pribadi, kode OTP, dan PIN, serta tidak mengeklik tautan mencurigakan yang mengatasnamakan bank atau instansi resmi.
Selain itu, Febriyani meminta kepala sekolah dan guru memberikan edukasi berkelanjutan agar siswa tidak terlibat tawuran dan tindakan lain yang melanggar hukum. (IK)n










