Home / BERITA UTAMA / DAERAH / HUKRIM / INVESTIGASI / KESEHATAN / NEWS / Tag

Selasa, 3 Februari 2026 - 09:57 WIB

DPD RI Ning Lia Istifhama Usul Dana Rp16,7 Triliun Dialihkan untuk Pariwisata dan Ekonomi Rakyat

TARGETNEWS.ID JAKARTA – Wacana iuran keanggotaan Indonesia sebesar sekitar Rp16,7 triliun dalam Board of Peace (BoP) menuai perhatian publik. Di tengah pro dan kontra yang berkembang, Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mendorong pemerintah agar cermat menimbang manfaat strategis keanggotaan tersebut bagi kepentingan nasional.

Ning Lia, sapaan akrab Lia Istifhama, menilai dinamika pendapat masyarakat perlu dibaca sebagai bagian dari aspirasi demokratis yang patut menjadi bahan pertimbangan Presiden Prabowo Subianto dalam menentukan arah kebijakan luar negeri.

Menurut Ning Lia, keikutsertaan Indonesia dalam inisiatif tersebut perlu dikaji secara mendalam agar tidak bertentangan dengan amanat Pembukaan UUD 1945, yakni bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

“Pro dan kontra ini menunjukkan kepedulian publik terhadap posisi Indonesia di forum internasional. Pemerintah perlu memastikan setiap keputusan benar-benar membawa manfaat nyata bagi rakyat,” ujar Ning Lia dalam keterangannya di Yogyakarta, Senin (2/2/2026).

Menurutnya, dengan nilai iuran yang sangat besar, pemerintah perlu membuka ruang kajian alternatif pemanfaatan anggaran yang berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu opsi yang diusulkan adalah penguatan sektor pariwisata.

“Dana sebesar itu bisa dialokasikan untuk peningkatan infrastruktur jalan menuju kawasan wisata, subsidi avtur agar harga tiket pesawat domestik lebih terjangkau, serta penguatan konektivitas antarwilayah,” jelas Ning Lia.

Baca juga  Sambut HUT Bhayangkara Ke-77, Kapolres Puncak Jaya Bersama Bhayangkari Kembali Gelar Baksos Kunjungi Para Tokoh Masyarakat Dan Pos Pengamanan TNI-Polri Di Wilkum Puncak Jaya

Ia menilai kebijakan tersebut berpotensi mendorong transaksi ekonomi daerah, mempercepat pemulihan sektor perhotelan dan UMKM, serta menciptakan efek berantai terhadap penyerapan tenaga kerja.

Di sisi lain, Ning Lia menegaskan partisipasi Indonesia dalam forum internasional tidak boleh mengaburkan sikap konsisten Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina serta menolak segala bentuk penjajahan.

Pernyataan itu disampaikan menyusul munculnya petisi di platform Change.org yang mendesak pemerintah meninjau ulang keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace, forum yang diinisiasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

“Petisi ini harus dibaca sebagai sinyal kegelisahan sebagian masyarakat terhadap arah kebijakan global yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada Palestina,” kata Ning Lia.

Ia juga mengingatkan kondisi fiskal nasional saat ini masih menghadapi tantangan, seiring kebutuhan pembiayaan program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) serta penanganan dampak bencana alam di sejumlah daerah.

“Anggaran sebesar Rp16 triliun itu setara dengan iuran Indonesia selama ratusan tahun di Sekretariat ASEAN atau puluhan tahun di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Karena itu, penggunaannya harus benar-benar tepat sasaran,” ujarnya.

Sebelumnya, mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI Dino Patti Djalal juga menyarankan agar Indonesia tidak tergesa-gesa menyetorkan dana besar sebagai iuran permanen Board of Peace. Ia menilai Indonesia sebaiknya menjadi anggota biasa terlebih dahulu sambil mencermati arah, tujuan, dan akuntabilitas forum tersebut.

Baca juga  Interdiksi Gagalkan Upaya Penyelundupan Sabu Dan Ekstasi Di Kecamatan Sekayam

Sementara itu, Jaringan Gusdurian Indonesia mendesak pemerintah menarik diri dari Board of Peace. Gusdurian menilai badan internasional tersebut berpotensi bertentangan dengan amanat konstitusi dalam mewujudkan ketertiban dunia yang berkeadilan.

Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia, Alissa Wahid, menyatakan bahwa inisiatif internasional yang digagas Presiden Amerika Serikat tersebut sejak awal dinilai lebih mencerminkan kepentingan geopolitik Amerika Serikat.

“Inisiatif ini mengklaim sebagai upaya penyelesaian pendudukan Israel atas Palestina dan pembangunan kembali Gaza. Namun, perencanaannya dilakukan tanpa konsultasi dengan otoritas Palestina, bahkan tidak ada perwakilan Palestina dalam jajaran Board of Peace,” ujar Alissa dalam keterangan tertulis, Senin (2/2/2026).

Menurut Alissa, Board of Peace juga tidak memiliki mandat hukum internasional yang jelas serta berpotensi melemahkan mekanisme lembaga resmi internasional seperti PBB. Kondisi tersebut dikhawatirkan menghasilkan kebijakan yang tidak transparan dan cenderung mengikuti kepentingan Amerika Serikat.

“Rencana ini berisiko melahirkan perdamaian semu tanpa kemerdekaan dan hak menentukan nasib sendiri bagi rakyat Palestina,” tegasnya.

Anil

Share :

Baca Juga

Artikel

Foto : Tiba di Balikpapan Presiden Jokowi Akan Resmikan Jembatan Pulau Balang

Artikel

Sampaikan larangan Karhutla kepada masyarakat, saat laks Patroli Dialogis

Artikel

Teguran Kepada Pengemudi Tidak Menggunakan Sabuk Pengaman

BERITA UTAMA

Gandeng Berbagai Pakar Hukum, MAHUPIKI Gelar Sosialisasi KUHP di Sumatera Barat

Artikel

Brigpol Maulana Ilham Sosialisasikan Aplikasi Polri Super Apps Polres Pulang Pisau

BERITA UTAMA

Dandim 1612/Manggarai Menyerahkan Secara Simbolih Kunci RTLH di 3 Titik Kabupaten Manggarai

BERITA UTAMA

Satgas TMMD Ke-129 Kebut Pemasangan Kawat Dinding RTLH Demi Tingkatkan Kualitas Bangunan

Artikel

Pesan Dandim 0808/Blitar Saat Lantik Prajurit Yang Naik Pangkat