Home / BERITA UTAMA / DAERAH / HUKRIM

Kamis, 5 Februari 2026 - 04:57 WIB

Board of Peace ala Donald Trump: Jebakan Geopolitik dan Pengkhianatan atas Mandat Konstitusi

Oleh Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM.
Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan International)

Gagasan Board of Peace (BoP) ala Donald Trump bukanlah terobosan perdamaian global, melainkan proyek politik kekuasaan yang berpotensi mengebiri peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sekaligus mereduksi makna perdamaian itu sendiri. Dengan struktur yang menempatkan Trump sebagai figur sentral dengan kewenangan absolut, BoP tidak mencerminkan multilateralisme, melainkan personalisasi kekuasaan global—sebuah anomali dalam tata dunia modern yang seharusnya berbasis hukum internasional.

Dalam sejarah hubungan internasional, setiap upaya “perdamaian” yang dibangun tanpa legitimasi universal, tanpa mekanisme akuntabilitas, dan tanpa keterlibatan pihak yang paling terdampak, hampir selalu berakhir sebagai alat dominasi. BoP berpotensi menjadi instrumen neo-kolonialisme geopolitik, di mana konflik—termasuk Gaza—tidak diselesaikan, tetapi dikelola agar tetap menguntungkan aktor-aktor kuat.

Baca juga  Koramil 1612-03/Reo Dengan Penuh Semangat Gotong Royong Meriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-78 melalui Kerja Bhakti Bersama

Palestina: Dihapus dari Meja, Dihukum atas Nama Perdamaian

Fakta bahwa Palestina tidak dilibatkan dalam pembentukan BoP, sementara Israel justru dirangkul, adalah bukti telanjang bahwa proyek ini tidak netral. Perdamaian tanpa korban penjajahan bukanlah perdamaian, melainkan normalisasi penindasan. Ini sejalan dengan rekam jejak Donald Trump dan Benjamin Netanyahu yang secara konsisten menolak solusi dua negara secara substantif, termasuk pengakuan penuh atas kedaulatan Palestina.

Dengan demikian, BoP tidak menawarkan kemerdekaan Gaza, melainkan menjadikan penderitaan rakyat Palestina sebagai komoditas stabilitas kawasan—diperdagangkan demi kepentingan geopolitik, energi, dan dominasi militer. Gaza direduksi menjadi variabel keamanan, bukan subjek hak asasi dan kedaulatan.

Indonesia dan Amanat Konstitusi yang Terancam

Baca juga  SILATURAHlM WARGA PEBEDAN KEJIWAN TEMBOK LUWUNG BERSAMA CALON WAKIL BUPATI MAS HOLID.

Jika Indonesia bergabung atau mendukung BoP, maka itu berarti Indonesia secara sadar masuk ke pusaran geopolitik yang bertentangan dengan jati dirinya sendiri. Pembukaan UUD 1945 secara tegas menyatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Dukungan historis Indonesia terhadap Palestina bukan sekadar kebijakan luar negeri, melainkan amanat rakyat dan konstitusi.

Di sinilah problem serius muncul: mengapa Presiden Prabowo Subianto justru memberi sinyal dukungan terhadap BoP?
Jika benar demikian, maka langkah tersebut bukan hanya keliru secara strategis, tetapi juga mencederai harapan rakyat Indonesia dan merusak konsistensi diplomasi bebas-aktif. Indonesia berisiko bergeser dari moral power menjadi silent partner dalam arsitektur penindasan global yang dikemas sebagai perdamaian.[]

Sumber: ASH
Editor: Tim Redaksi

Share :

Baca Juga

Artikel

Sarasehan Pencegahan Korupsi dan Perbaikan Kelola Pemerintahan Dalam Proses Perizinan di Daerah 

BERITA UTAMA

Cegah Ruang Gerak Curanmor, Polrestabes Surabaya Gelar Operasi Gabungan

BERITA UTAMA

Ini cara Polsek Jabiren Raya guna cegah Terjadinya Bahaya Tindak Kejahatan

Artikel

Sinergitas TNI Rakyat Anggota Koramil 04/Jawai Bersama Warga Gotong Royong Timbun Jalan

Artikel

Bhabinkamtibmas Food Estate Sambangi Warga sekaligus Sisipkan Pesan Kamtibmas

BERITA UTAMA

Tingkatkan Iman dan Taqwa Personel, Wakapolres Pasuruan Pimpin Pengajian Rutin

BERITA UTAMA

Rangkul Warga Binaan, Polsek Sabangau Ajak Masyarakat Rawat Kelestarian Alam

BERITA UTAMA

Satlantas Polres Pulang Pisau Bagikan Brosur Kamseltibcarlantas kepada Pengendara
error: Konten dilindungi!!