Home / Artikel / BERITA UTAMA / DAERAH / HUKRIM / KESEHATAN / NEWS / Tag

Rabu, 11 Maret 2026 - 04:36 WIB

Bulan Suci Ramadhan Aceng Syamsul Hadie: Bulan Revolusi Moral Umat

Ramadhan sering dipahami sebagai bulan ibadah yang penuh dengan ritual spiritual: puasa, shalat tarawih, tadarus, dan berbagai bentuk amal kebajikan lainnya. Namun jika dipahami secara lebih mendalam, Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah sekolah moral yang dirancang untuk melahirkan manusia yang berintegritas, jujur, dan memiliki kesadaran sosial yang tinggi.

“Bulan Ramadhan merupakan bulan revolusi umat, atau sebagai sekolah tempat kaderisasi yang dirancang untuk melahirkan manusia yang berintegritas, jujur, dan memiliki kesadaran sosial yang tinggi”, ungkap Aceng Syamsul Hadie,Sos., MM selaku Ketua Umum Yayasan Daarurrahman Cigayam Kecamatan Kasokandel Kabupaten Majalengka.

Aceng menjelaskan bahwa dalam ajaran Islam, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan untuk mengendalikan hawa nafsu, menundukkan ego, dan membangun kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral di hadapan Allah dan sesama manusia. Prinsip ini ditegaskan dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa tujuan utama puasa adalah agar manusia mencapai derajat takwa. Takwa bukan hanya soal ibadah pribadi, tetapi juga menyangkut integritas moral dalam kehidupan sosial.

Ironisnya, di tengah masyarakat modern yang semakin religius secara simbolik, kita justru menyaksikan berbagai krisis moral yang serius. Korupsi, manipulasi kekuasaan, ketimpangan ekonomi, dan berbagai bentuk ketidakadilan sosial masih menjadi masalah besar di banyak negara, termasuk di negeri-negeri yang mayoritas penduduknya Muslim.

Baca juga  Wujud Kemanunggalan TNI-Rakyat: Babinsa Bantu Petani Rantau Keminting Percepat Proses Panen Padi

“Fenomena ini menunjukkan bahwa agama sering kali berhenti pada level simbol dan ritual, tanpa benar-benar menembus wilayah etika dan moralitas publik. Ramadhan dirayakan dengan meriah, masjid penuh dengan jamaah, tetapi setelah bulan suci berakhir, praktik ketidakjujuran dan penyalahgunaan kekuasaan kembali terjadi”, tambahnya.

Di sinilah relevansi gagasan revolusi moral umat menjadi sangat penting. Aceng menerangkan, Puasa sebagai latihan integritas, dimana puasa mengajarkan manusia untuk berkata “tidak” terhadap keinginan dirinya sendiri. Selama berjam-jam seseorang menahan diri dari makan, minum, dan berbagai kenikmatan duniawi, bukan karena tidak mampu, tetapi karena kesadaran spiritual bahwa Allah selalu mengawasi.

Latihan ini sebenarnya merupakan pendidikan integritas yang sangat kuat. Seseorang yang mampu menahan diri dari sesuatu yang halal pada waktu tertentu, seharusnya lebih mampu menjauhi hal-hal yang jelas haram seperti korupsi, penipuan, dan penyalahgunaan kekuasaan.

“Dengan kata lain, puasa melatih manusia untuk membangun moralitas yang tidak bergantung pada pengawasan manusia, tetapi pada kesadaran batin bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi di hadapan Tuhan”, paparnya.

Acengpun mengingatkan bahwa Ramadhan juga mengajarkan pentingnya solidaritas sosial. Rasa lapar yang dialami selama berpuasa seharusnya menumbuhkan empati terhadap mereka yang hidup dalam kemiskinan dan keterbatasan.

Baca juga  Satlantas Ingatkan Pengemudi Pakai Sabuk Pengaman

Karena itu, Islam menempatkan zakat, infak, dan sedekah sebagai bagian penting dari ibadah Ramadhan. Melalui mekanisme ini, agama tidak hanya membentuk kesalehan pribadi, tetapi juga mendorong lahirnya keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan.

Jika nilai ini benar-benar dipraktikkan, Ramadhan dapat menjadi kekuatan moral yang mendorong perubahan sosial yang nyata.

“Sejarah menunjukkan bahwa peradaban besar selalu dibangun di atas fondasi moral yang kuat. Tanpa integritas, kekuasaan akan berubah menjadi tirani, kekayaan akan berubah menjadi eksploitasi, dan ilmu pengetahuan akan kehilangan arah kemanusiaannya. Karena itu, Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk melakukan refleksi kolektif: apakah ibadah yang kita lakukan benar-benar mampu membentuk karakter yang lebih jujur, adil, dan bertanggung jawab”, tandasnya.

Jika Ramadhan hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa perubahan perilaku, maka esensi puasa belum sepenuhnya tercapai. Tetapi jika Ramadhan mampu melahirkan manusia yang lebih berintegritas, berani menegakkan keadilan, dan peduli terhadap sesama, maka di situlah revolusi moral umat benar-benar dimulai.

“Pada akhirnya, kemenangan Ramadhan tidak hanya ditandai oleh berakhirnya puasa, tetapi oleh lahirnya manusia-manusia baru yang menjadikan nilai moral sebagai fondasi kehidupan pribadi, sosial, dan peradaban”, pungkasnya.[]

Share :

Baca Juga

Artikel

Satdik – 2 Kodiklatal Tutup Diklat Bela Negara BRILiaN Banking Kampus Makassar

Artikel

Giat KRYD Guna Cipkon Aman dan Kondusif di Wilayah Kecamatan Sebangau Kuala

Artikel

Babinsa Koramil 1612-05/Elar Pastikan Irigasi Sawah Berjalan Lancar

BERITA UTAMA

Cegah Premanise Polsek Maliku Laksanakan KRYD

Artikel

ENAM PATI MARINIR MENGHADAP DANKORMAR

Artikel

Perkuat Kemitraan dengan Warga, Polsek Maliku Gencarkan Sambang Kamtibmas untuk Cegah Gangguan Keamanan

BERITA UTAMA

AMI Bersama Beberapa Ormas dan LSM Yang Ada Di Jatim Akan Turun Aksi Demo 1 Bulan Terkait Kasus Mega Korupsi PJU

Artikel

Perkuat Kemitraan dengan Warga, Polsek Maliku Gencarkan Sambang Kamtibmas untuk Cegah Gangguan Keamanan