SURABAYA – Ada momen dalam hidup ketika dunia seakan melambat. Sunyi terasa lebih dalam, dan hati menemukan ruang untuk berbicara. Di titik itulah makna kehidupan sering kali hadir—diam, namun begitu kuat.
Momentum Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri tahun ini menjadi pengingat indah tentang dua sisi kehidupan: keheningan dan kebahagiaan. Dua hal yang berbeda, namun saling melengkapi.
Melalui pesan visual bertajuk “Harmony in Silence & Celebration”, BICOPIS tak sekadar menyampaikan ucapan, tetapi menghadirkan refleksi yang menyentuh hati.
Owner BICOPI, Mr. Abi, mengungkapkan bahwa di tengah hiruk pikuk kehidupan, manusia sering lupa untuk berhenti sejenak dan mendengarkan dirinya sendiri.
“Dalam hening Hari Raya Nyepi, kita belajar berdamai dengan diri. Kita diajak menenangkan pikiran, merasakan syukur, dan memahami arti hidup yang sesungguhnya,” tuturnya dengan penuh makna.
Namun perjalanan itu tak berhenti di sana. Ada fase lain yang tak kalah penting—kembali kepada sesama.
“Di momen Idul Fitri, hati yang telah tenang itu kita bawa untuk saling memaafkan. Kita kembali menjadi manusia yang utuh—bersih, ringan, dan penuh kasih,” lanjutnya.
Pesan yang disampaikan BICOPIS terasa sederhana, namun dalam:
bahwa hidup bukan hanya tentang seberapa ramai kita merayakan, tetapi juga seberapa dalam kita memahami keheningan.
Dalam setiap kata yang terangkai, terselip harapan—agar manusia tak hanya merayakan hari besar secara seremonial, tetapi benar-benar meresapi maknanya.
“Dalam hening, kita menemukan kedamaian dan makna kehidupan. Di hari yang suci, mari saling memaafkan dan kembali ke fitrah,” menjadi pesan penutup yang mengalir hangat.
BICOPIS pun berharap, melalui momentum ini, masyarakat dapat kembali menguatkan nilai toleransi, mempererat kebersamaan, dan menemukan kembali hal paling sederhana yang sering terlupakan: kedamaian dalam hati.










