SURABAYA – Senja di hari ke-28 Ramadan itu terasa berbeda. Di tengah riuh kendaraan yang melintas di Jalan Ahmad Yani, tepat di depan Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, ada sekelompok orang yang diam-diam menebar kebaikan.
Dengan penuh syukur, Tim Takjil MAKI Jawa Timur kembali turun ke jalan, membawa 250 paket takjil untuk dibagikan kepada mereka yang masih berada di perjalanan saat waktu berbuka hampir tiba.
Satu per satu paket itu diberikan—mie goreng sederhana dengan kerupuk dan irisan telur dadar, kurma manis, es melon segar dengan potongan blewah, hingga gorengan lumpia dan siomay dari tangan Mbak Pipin. Namun lebih dari itu, yang dibagikan sejatinya adalah kepedulian.
Tak sedikit penerima yang terdiam sejenak. Ada yang hanya tersenyum, ada yang mengucap lirih, “Alhamdulillah,” dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Di antara mereka, mungkin ada yang seharian belum sempat makan, ada pula yang sedang berjuang mencari nafkah untuk keluarga di rumah.
Seorang pengendara ojek online bahkan sempat menunduk haru sebelum menerima takjil itu. “Terima kasih, Mas… ini sangat berarti buat kami yang di jalan,” ucapnya pelan.
Bagi Tim Takjil MAKI Jatim, momen-momen seperti itulah yang tak ternilai. Bukan soal berapa banyak yang dibagikan, tapi tentang bagaimana sedikit kebaikan bisa menyentuh hati begitu dalam.
“Alhamdulillah, kami hanya ingin berbagi. Semoga yang kecil ini bisa menjadi besar di hadapan Allah, dan membawa berkah bagi semua,” ujar salah satu relawan dengan mata berbinar.
Di tengah lalu lintas yang tak pernah benar-benar berhenti, ada doa-doa yang ikut mengalir bersama setiap paket takjil. Doa dari tangan yang memberi, dan doa dari hati yang menerima.
Ramadan hampir usai. Namun dari Jalan Ahmad Yani sore itu, tersisa pelajaran sederhana—bahwa kebaikan, sekecil apa pun, selalu menemukan jalannya untuk mengetuk hati manusia.
Dan mungkin, di antara bungkusan takjil itu, terselip harapan… bahwa dunia masih dipenuhi orang-orang baik.
Anil










