Home / Artikel / BERITA UTAMA / DAERAH / NEWS / Tag

Rabu, 25 Maret 2026 - 20:45 WIB

Kakao Impor Rp18,7 Triliun Disorot, Lia Istifhama: Ironi Negara Produsen Besar Dunia

Surabaya – Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Lia Istifhama, menyoroti kebijakan impor kakao yang dinilai tidak sejalan dengan potensi besar Indonesia sebagai salah satu produsen utama dunia.

Lia mengaku mendukung ketegasan Prabowo Subianto yang menyoroti nilai impor kakao yang mencapai Rp18,7 triliun. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi ironi di tengah posisi Indonesia sebagai produsen kakao terbesar ketiga dunia.

“Saya sangat mendukung dan mengapresiasi ketegasan Bapak Prabowo Subianto yang menyoroti impor kakao Rp18,7 triliun. Ini sangat ironis, mengingat Indonesia adalah produsen kakao terbesar ketiga dunia,” ujarnya.

Berdasarkan data, produksi kakao Indonesia pada 2022 mencapai sekitar 739.483 ton, berada di bawah Pantai Gading dan Ghana. Namun demikian, tingginya angka impor justru memunculkan tanda tanya besar terkait tata kelola industri kakao nasional.

Baca juga  Geram Sabung Ayam, Marak Setiap Akhir Pekan Sangat Meresahkan Warga

Lia mempertanyakan apakah terjadi defisit ketersediaan bahan baku untuk kebutuhan industri dalam negeri, atau justru tingginya permintaan industri yang tidak diimbangi dengan penguatan sektor hulu.

“Jika kita masuk dalam jajaran produsen terbesar dunia, seharusnya kita mampu menjadi pengekspor. Tapi jika justru mengalami defisit, maka perlu dipertanyakan seberapa besar kebutuhan industri kakao nasional hingga kita harus impor,” tegasnya.

Ia juga menyoroti arah pengembangan industri kakao nasional, baik dari sisi bahan baku maupun produk turunan. Menurutnya, perlu kejelasan apakah industri kakao Indonesia telah mampu bersaing di pasar global atau justru masih bergantung pada pasokan luar negeri.

“Pertanyaan mendasarnya, seberapa tinggi preferensi industri berbasis kakao sehingga kita harus impor? Apakah industri kakao kita sudah masuk pasar global? Jika kita bukan pengekspor bahan mentah, dan juga belum maksimal mengekspor produk jadi, maka mengapa kita gagal memaksimalkan potensi sumber daya alam sendiri?” paparnya.

Baca juga  Tahanan Rutan Kelas IIB Nganjuk Melarikan Diri, Masyarakat Diminta Melapor

Lia menegaskan, kondisi ini harus menjadi perhatian serius pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap rantai pasok dan hilirisasi industri kakao nasional. Menurutnya, penguatan sektor hulu hingga hilir menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga pemain utama dalam perdagangan global produk kakao.

“Ini momentum untuk memperbaiki tata kelola industri kakao kita, agar tidak hanya kuat di produksi, tetapi juga unggul dalam hilirisasi dan ekspor,” pungkasnya.

ANIL

Share :

Baca Juga

BERITA UTAMA

80 Personel Polresta Malang Kota Perkuat Pengamanan Pilkades Serentak di Kabupaten Bangkalan

Artikel

Meriahkan HUT RI Ke 80 Koramil 05/Pemangkat Selenggarakan Berbagai Lomba Bersama Keluarga

BERITA UTAMA

Dukung Ketahanan Pangan, Polsek Kahayan Tengah Sosialisasi Pemanfaatan Pekarangan

Artikel

Polsek Maliku Sambangi Masyarakat dengan Beri Imbauan

Artikel

Maklumat Kapolda Kalteng di tempelkan di tempat umum supaya bisa di baca Masyarakat

BERITA UTAMA

Bantu Evakuasi Pohon Tumbang, Satlantas Polresta Palangka Raya Lakukan Pengaturan Arus Lalin

Artikel

Personel Polsek Kahayan Kuala sambangi warga dan Memberikan himbauan Tentang Larangan Membakar hutan dan lahan

Artikel

Polsek Kahayan Kuala lakukan sosialisasi kepada warga terkait telah di bentuknya Tim Satgas Saber Pungli di Wilkum Polres Pulang Pisau