Surabaya – Di tengah dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah yang terus menjadi perhatian dunia, pemerintah Indonesia memastikan penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 tetap berjalan sesuai jadwal. Kepastian ini disampaikan langsung oleh Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf, yang menegaskan bahwa persiapan telah mencapai hampir 100 persen dan masih berjalan sesuai rencana.
Langkah tersebut mendapat apresiasi dari Anggota DPD RI, Lia Istifhama. Ia menilai kepastian ini sebagai bentuk nyata kehadiran negara dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat, khususnya calon jemaah haji.
Menurut Lia, transparansi dan komunikasi yang konsisten dari Kementerian Haji dan Umrah menjadi kunci dalam menjaga ketenangan publik di tengah situasi global yang tidak menentu.
“Dengan kebijakan Kemenhaj yang selalu transparan dan komunikatif, calon jemaah bisa lebih tenang dan tidak perlu khawatir berlebihan. Negara hadir memastikan semua berjalan dengan baik,” ujarnya.
Keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa itu juga menilai kesiapan pemerintah mencerminkan tata kelola kebijakan publik yang adaptif dan responsif terhadap dinamika global. Ia menegaskan bahwa langkah antisipatif yang disiapkan menunjukkan pemerintah tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga proaktif dalam melindungi warganya.
“Saya mengapresiasi Gus Irfan yang tidak hanya memastikan keberangkatan, tetapi juga menyiapkan berbagai skenario terburuk. Artinya, keselamatan jemaah benar-benar menjadi prioritas,” tegasnya.
Lebih lanjut, Lia mengajak masyarakat, khususnya calon jemaah haji, untuk tetap tenang dan mempercayakan proses penyelenggaraan kepada pemerintah. Ia berharap ibadah haji tahun 2026 dapat berjalan lancar, aman, dan nyaman.
Sementara itu, Menteri Haji dan Umrah, Gus Irfan, menegaskan bahwa keselamatan ratusan ribu jemaah Indonesia menjadi prioritas utama sesuai arahan Presiden. Pemerintah juga terus menjalin koordinasi intensif dengan otoritas Arab Saudi yang hingga saat ini menyatakan kondisi tetap aman dan kondusif.
“Persiapan kita sudah hampir 100 persen dan sampai hari ini tidak ada kendala,” kata Gus Irfan saat kunjungan kerja di Sampang.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada kesiapan teknis, tetapi juga telah menyiapkan langkah mitigasi serta skenario darurat (contingency plan) untuk mengantisipasi potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Berbagai skenario telah disusun, mulai dari penyesuaian jumlah keberangkatan hingga kemungkinan perubahan rute penerbangan apabila terjadi kondisi darurat.
“Seandainya terjadi konflik, berbagai kemungkinan sudah disiapkan. Apakah itu berangkat separuh, melewati rute berbeda, atau mitigasi jika situasi memburuk saat jemaah sudah di sana. Semua sudah siap,” jelasnya.
ANIL










