Home / Artikel / BERITA UTAMA / DAERAH / HUKRIM / KESEHATAN / NEWS / Tag

Selasa, 7 April 2026 - 20:31 WIB

Hari Anak Palestina Pembunuhan, Kelaparan dan Wabah Penyakit Melanda Anak-Anak Gaza, Dunia Hanya Diam Membisu

Oleh Aceng Syamsul Hadie (ASH)

Oleh Aceng Syamsul Hadie (ASH)

Selama dua tahun terakhir, lebih dari 21 ribu anak dilaporkan syahid. Dari jumlah itu, sekitar 19 ribu adalah pelajar—generasi yang seharusnya berada di ruang kelas, bukan di bawah reruntuhan. Lebih dari 44 ribu anak lainnya mengalami luka-luka, banyak di antaranya cacat permanen akibat amputasi, di tengah sistem kesehatan yang telah runtuh.

Data resmi menunjukkan sekitar 30 persen korban jiwa adalah anak-anak. Angka ini bukan sekadar statistik—ini adalah potret nyata kehancuran satu generasi. Ratusan bayi dan ribuan balita termasuk di dalamnya, menandakan bahwa bahkan kehidupan yang baru dimulai pun tidak luput dari kekerasan brutal.

Namun kematian di Gaza tidak hanya datang dari bom dan peluru. Setidaknya 157 anak meninggal akibat kelaparan, sementara puluhan lainnya tewas karena cuaca dingin di pengungsian. Blokade berkepanjangan dan terbatasnya akses bantuan kemanusiaan telah mengubah kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, dan tempat tinggal menjadi barang langka.

Baca juga  Babinsa Wonodadi Bersama Kader Posyandu dan Bidan Desa Berikan Vitamin Balita untuk Cegah Stunting

Di sisi lain, lebih dari 58 ribu anak kehilangan orang tua mereka. Mereka kini hidup dalam trauma mendalam, tanpa perlindungan, tanpa kepastian masa depan. Ini bukan hanya krisis fisik—ini adalah kehancuran psikologis massal yang dampaknya akan berlangsung lintas generasi.

Sektor pendidikan pun lumpuh. Ratusan sekolah hancur, dan sekitar 700 ribu anak kehilangan akses terhadap pendidikan. Gaza tidak hanya kehilangan nyawa—ia kehilangan masa depan.

Kondisi serupa juga terjadi di Tepi Barat. Ratusan anak menjadi korban jiwa, ribuan ditahan, dan puluhan ribu lainnya hidup dalam ketakutan dan pengungsian. Ini menunjukkan bahwa penderitaan anak-anak Palestina bukan insiden terisolasi, melainkan pola sistematis yang terus berlangsung.

Baca juga  Sabet Gelar Best Nett 1 Flight B di Turnamen Farewell Golf Kasdam V Brawijaya

Pemerintah Palestina menyebut situasi ini sebagai salah satu krisis kemanusiaan terburuk di era modern. Pernyataan itu bukan berlebihan. Ketika anak-anak menjadi target paling rentan dan paling banyak dikorbankan, maka dunia sedang menyaksikan kegagalan moral kolektif.

Pertanyaannya kini sederhana namun mengguncang: sampai kapan dunia akan diam?

Jika komunitas internasional masih mengklaim menjunjung tinggi hak asasi manusia, maka tragedi ini tidak boleh terus dibiarkan. Perlindungan terhadap anak-anak bukan pilihan politik—ia adalah kewajiban kemanusiaan.

Hari Anak Palestina seharusnya menjadi panggilan global—bukan sekadar peringatan, tetapi titik balik. Karena setiap detik keterlambatan berarti satu lagi nyawa anak yang hilang, satu lagi masa depan yang dihancurkan.[]**

**) Penulis,
Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM.
Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional)

Share :

Baca Juga

Artikel

Bhabinkamtibmas Polsek Maliku Sosialisasikan Saber Pungli di Desa Binaan.

Artikel

Door To Door, Polsek Sebangau Kuala laksanakan sosialisasi Saber Pungli

Artikel

Pelajar SMA Taruna, Nusantara Kunjungi STIK Polri, Kenali Dunia Kepolisian Lebih Dekat

Artikel

Polsek Maliku Sampaikan Sosialisasi Program Pemanfaatan Pekarangan Pangan Bergizi

BERITA UTAMA

Bamin Komsos Koramil 04/Kra Wakili Danramil 04/Kra Hadiri Undangan Acara Rapat Anggota Tahunan (RAT) KSU Taman Wijaya Rasa

BERITA UTAMA

Tindak Lanjut Pengarahan Kapolri Saat Apel Kasatwil, Kapolres Pulang Pisau Sampaikan Arahan Kepada Personel

BERITA UTAMA

Babinsa Koramil 13/Blsp Bersama Perangkat Desa Komsos Kerumah Warga

Artikel

Jaga Stabilitas Kamtibmas di Wikumnya, Polsek Maliku Laksanakan Patroli Malam