Home / Artikel / BERITA UTAMA / DAERAH / HUKRIM / KESEHATAN / NEWS / Tag

Kamis, 23 April 2026 - 20:51 WIB

Cerpen: ENYAK Karya J. Hafidh Dinillah “Saya terima nikahnya kekasih saya dengan mas kawin kalung emas seberat 10 gram, tunai.”

TARGETNEWS.ID Hari itu, 23 Rabiulawal 1413 Hijriah, bertepatan dengan 21 Agustus 1993 Masehi, aku dinikahkan.

“Siapakah kekasih hati yang berada di sampingmu?” tanya Pak Penghulu.

Aku gelagapan. Aku bahkan belum benar-benar mengenal calon istriku. Namanya pun belum sempat kutanyakan sampai saat pernikahan ini tiba. Sementara penghulu menunggu jawaban, aku mendekatkan mulutku ke telinga gadis di sampingku.

“Siapa namamu?” bisikku.

Dari celah bibir mungilnya terdengar suara pelan, “Novi.”

“Novi apa?”

“Noviana.”

Baru saat itu—beberapa menit menjelang akad—aku mengetahui nama perempuan yang akan mendampingiku menjalani hidup: suka dan duka, manis dan pahit, serta menjadi ibu dari anak-anakku kelak.

Tidak ada pesta meriah. Tidak ada tamu berseragam batik atau kebaya. Tak terlihat pagar ayu menyambut tamu. Bahkan, tak satu pun sanak keluarga hadir. Calon mempelai perempuan duduk kikuk seorang diri, ditemani ayahnya yang bersila sebagai wali nikah.

Di ruang sempit dan pengap itu aku dinikahkan. Tanpa alunan musik, tanpa tawa anak-anak. Hidangan yang tersedia hanya kopi hitam dan singkong rebus.

Menjelang Zuhur, ijab kabul diucapkan. Dua saksi menyatakan sah. Ucapan syukur terdengar lirih dari mereka yang hadir. Sejenak kami bergurau sambil menikmati kopi dan ubi rebus. Setelah itu, satu per satu mereka pamit—termasuk perempuan yang baru saja sah menjadi istriku.

Di kamar yang seharusnya kami tempati bersama, aku hanya ditemani kesendirian, buku, dan batang-batang rokok. Pernikahan kami belum tercatat secara resmi di Kantor Urusan Agama.

Baca juga  Puslatlekdalsen Kodiklatal Tutup Kursus Operator Pusat Informasi Tempur (PIT)

Di malam pertamaku, tak ada kehangatan. Hanya bayangan samar wajah seorang gadis—cantik, berambut ikal, berhidung mancung, dengan senyum rapi—yang siang tadi duduk di sampingku dalam balutan kebaya merah jambu.

Lalu, dalam kesunyian itu, bayangan Enyak hadir.

Seperti hologram, tatapannya tajam, penuh kecewa dan kesedihan.

Suara Enyak dari telepon seminggu lalu kembali terngiang.

“Nyak, anakmu minta restu. Minggu depan, insya Allah saya akan menikah.”

Hening.

Hanya terdengar tarikan napas panjang.

“Kamu akan menikah?” akhirnya suara itu pecah, bercampur tangis. “Dengan siapa?”

“Ada, Nyak. Insya Allah cantik dan salehah.”

“Tapi Enyak harus kenal dulu. Harus tahu keluarganya. Asalnya dari mana, sukunya apa. Enyak harus tahu bibit, bebet, dan bobotnya.”

Aku memahami kegelisahannya. Empat tahun aku pergi tanpa kabar. Tiba-tiba meminta restu.

“Insya Allah saya tidak salah pilih, Nyak.”

“Bawa dulu ke rumah! Kenalkan! Musyawarahkan dengan keluarga! Tentukan lamaran, mahar, resepsi!” Suaranya panjang, tegas, seperti fatwa yang tak bisa ditolak.

“Maaf, Nyak… belum memungkinkan.”

Tangisnya pecah. Tangis yang sama seperti empat tahun lalu—saat aku pergi tanpa kembali.

Hari Jumat itu masih jelas dalam ingatanku.

Sepulang salat Jumat, aku mendengar Enyak berbicara dengan tamu.

“Afif ada di rumah?” suara Pak RW.

“Ada, tapi biasanya langsung ke kampus,” jawab Enyak.

“Ada keperluan penting?”

“Saya hanya mengantar bapak-bapak ini… aparat ingin bertemu anak Enyak.”

Aku mengintip. Tiga orang berseragam berdiri di depan rumah.

Baca juga  Personil Polsek Maliku melakukan Door to Door System, Menyampaikan Maklumat Kapolda Kalteng

Tubuhku gemetar. Cerita-cerita tentang interogasi aparat berkelebat di kepalaku—penyiksaan, listrik, pukulan.

“Mereka bilang Afif terlibat kegiatan terlarang… bahkan disebut tokoh utama,” ujar salah satu aparat.

Kata subversif meluncur—kata yang asing bagi Enyak, tapi begitu menakutkan bagiku.

Tanpa pikir panjang, aku kabur dari pintu belakang.

Sejak saat itu, hidupku berpindah-pindah. Dari satu kota ke kota lain. Dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Menumpang hidup dari satu sahabat ke sahabat lain.

Empat tahun.

Empat Ramadan tanpa kolek buatan Enyak.

Empat Lebaran tanpa ketupat dan semur kerbau.

Tanpa pelukan. Tanpa doa.

“Bukan Enyak tidak merestui,” suara itu kembali terngiang.
“Tapi datanglah ke makam bapakmu. Minta izin.”

Telepon terputus.

“Anak Bapak perempuan, sehat.”

Tangisku pecah saat mengazankan bayi itu.

“Maaf ya, Nyak… cucu pertamamu lahir tanpa restumu.”

Aku memeluk istriku.

“Kita beri nama Dlohaya Jamilah.”

Dengan tangan gemetar, aku menekan nomor rumah.

“Halo?”

Bukan suara Enyak.

“Ini Afif, Kak…”

Tangis di seberang pecah.

“Kamu ke mana saja?! Enyak setiap hari menanyakanmu!”

Dadaku sesak.

“Enyak… sehat?”

Hening.

Lalu suara itu datang—pelan, menghancurkan:

“Enyak sudah tidak ada… dua hari lalu dimakamkan.”

Dunia runtuh.

Tak ada air mata. Hanya penyesalan yang menghancurkan seluruh isi dada.

“Maaf, Nyak… anakmu durhaka.”

Kalimat itu terus hidup dalam mimpiku.

Tamat.[]**

**) Saung Burung Gereja, Ahad, 12 April 2026
JeHaDe
(Didedikasikan untuk ulang tahunku yang ke-57)

Share :

Baca Juga

BERITA UTAMA

Unit Kamsel Sampaikan Himbauan Kamseltibcarlantas

BERITA UTAMA

Berbagi Kebahagiaan, Dandim 1009/Tanah Laut dan Ketua Persit KCK Cabang XXXII Bagikan Takjil Untuk Pengguna Jalan

Artikel

Personil polsek sebangau kuala melaksanakan serah terima piket penjagaan mako polsek sebangau kuala

Artikel

Polsek Sebangau Kuala Patroli Malam Cek Sitkamtibmas dilingkungan Kantor PPK Kec. Sebangau Kuala

BERITA UTAMA

Kanit Sabhara sambang serta sampaikan Himbauan Kamtibmas ke warga

Artikel

Ganggu Kenyamanan Umum, Pengguna Knalpot Brong Diberi Edukasi dan Penindakan

BERITA UTAMA

Bhabinkamtibmas Polsek Maliku Sosialisasikan Program Saber Pungli Kepada Warga Masyarakat

Artikel

Seminggu Jabat Pj. Wali Kota Tegal, Agus Dwi Sulistyantono Perdana Pimpin Apel Bersama ASN dan Non ASN di Lingkungan Pemkot Tegal