Home / BERITA UTAMA / NEWS

Rabu, 2 September 2026 - 11:15 WIB

Ning Lia Menangkap Pesan dari Tambakberas: NU Harus Tetap Berakar, Tak Takut Berubah

Oleh: Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, S.H.I., S.Sos., S.Sos.I., M.E.I.

SURABAYA  TARGETNEWS.ID Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, memang telah usai. Namun, sesungguhnya ada banyak hal yang belum selesai untuk dipikirkan.

Sebab Muktamar bukan semata-mata tentang pergantian kepemimpinan. Ia bukan hanya forum untuk menentukan siapa yang akan memimpin organisasi lima tahun ke depan. Lebih dari itu, Muktamar adalah ruang besar untuk membaca kembali perjalanan Nahdlatul Ulama, memahami tantangan zaman, sekaligus menentukan bagaimana NU tetap menjadi rumah besar bagi umat di tengah perubahan dunia yang bergerak semakin cepat.

Terpilihnya KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031 menjadi salah satu penanda penting dari perjalanan baru tersebut.

Gus Kikin bukanlah sosok asing dalam sejarah dan tradisi Nahdlatul Ulama. Ia tumbuh dari lingkungan pesantren, memiliki pengalaman panjang dalam kehidupan organisasi, serta membawa jejak sejarah keluarga besar pendiri NU. Sebagai cicit Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy’ari, Gus Kikin tentu memahami bahwa NU bukan sekadar organisasi.

NU adalah sejarah. NU adalah tradisi. NU adalah jaringan keilmuan. Dan yang paling penting, NU adalah denyut kehidupan masyarakat.

Namun, justru karena NU memiliki sejarah yang begitu besar, tantangan kepemimpinan ke depan tidak akan menjadi ringan.

Menjadi bagian dari sejarah besar NU tentu merupakan kehormatan. Tetapi memimpin NU di tengah perubahan zaman adalah amanah yang jauh lebih besar.

Hari ini, dunia bergerak dengan kecepatan yang belum pernah kita alami sebelumnya. Generasi muda tumbuh dalam ruang digital. Media sosial membentuk cara berpikir baru. Kecerdasan buatan mulai mengubah dunia pendidikan, ekonomi, pekerjaan, bahkan kehidupan sosial manusia.

Di sisi lain, masyarakat masih menghadapi persoalan klasik: kemiskinan, ketimpangan ekonomi, pendidikan, pengangguran dan berbagai persoalan sosial lainnya.

Di tengah situasi itulah NU dituntut untuk tetap menjadi organisasi yang mampu membaca zaman.

Bagi saya, pesan paling menarik dari Muktamar ke-35 di Tambakberas justru terletak pada perjumpaan antara akar tradisi dan tuntutan perubahan.

Selama Muktamar berlangsung, Tambakberas seperti menjadi miniatur besar dari kehidupan Nahdlatul Ulama.

Kiai, ulama, santri, pengurus organisasi, generasi muda hingga masyarakat dari berbagai daerah datang dan bertemu dalam satu ruang kebersamaan. Mereka membawa latar belakang yang berbeda, pengalaman yang berbeda, bahkan mungkin pandangan yang berbeda. Tetapi semuanya dipertemukan oleh satu ikatan yang sama: Nahdlatul Ulama.

Baca juga  Lapas Narkotika Jakarta Tandatangani Komitmen Bersama Transformasi Pemutakhiran Data SIMPEG

Di situlah saya merasakan bahwa kekuatan NU sesungguhnya tidak hanya berada dalam struktur organisasi.

Kekuatan NU hidup di tengah masyarakat.

Muktamar bukan hanya agenda resmi yang berlangsung di ruang sidang. Di luar forum, ada denyut kehidupan yang bergerak. Ada masyarakat yang menyambut tamu. Ada pedagang yang mencari rezeki. Ada warung-warung yang ramai. Ada warga yang terlibat dalam berbagai aktivitas.

Tambakberas hidup dari pagi hingga malam.

Bagi saya, Muktamar NU bukan hanya tentang agenda organisasi. Ada suasana kebersamaan yang sangat kuat. Orang datang dari berbagai daerah dengan latar belakang berbeda, tetapi bertemu dalam semangat persaudaraan yang sama.

Inilah modal sosial terbesar yang dimiliki NU.

Tidak banyak organisasi yang memiliki jaringan sosial sedemikian luas dan mengakar hingga ke tingkat paling bawah masyarakat. NU hadir di pesantren, kampung-kampung, masjid, majelis taklim, lembaga pendidikan hingga berbagai ruang kehidupan sosial.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah NU memiliki kekuatan.

NU jelas memiliki kekuatan besar.

Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana kekuatan tersebut diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat.

Keramaian Muktamar tentu menjadi sesuatu yang menggembirakan. Perputaran ekonomi masyarakat meningkat. Aktivitas warga bergerak. Namun, semangat besar seperti itu tidak boleh berhenti hanya sebagai momentum sesaat.

Setelah para peserta pulang ke daerah masing-masing, energi Muktamar seharusnya tetap hidup.

NU memiliki modal sosial yang luar biasa besar. Modal itu harus diterjemahkan menjadi kerja nyata, pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi umat, peningkatan kualitas pendidikan serta ruang yang lebih besar bagi generasi muda.

Di sinilah amanah Gus Kikin menjadi semakin penting.

Kepemimpinan NU ke depan tidak cukup hanya menjaga apa yang telah diwariskan. Kepemimpinan juga harus mampu mempersiapkan apa yang akan datang.

Menjaga tradisi bukan berarti menutup pintu terhadap perubahan.

Sebaliknya, menerima modernitas juga tidak berarti meninggalkan akar pesantren.

Keduanya justru harus berjalan bersama.

Tradisi harus tetap menjadi fondasi. Tetapi generasi muda juga harus diberi ruang untuk menghadirkan gagasan baru.

Kita tidak perlu memilih antara tradisi atau modernitas.

Yang harus dilakukan adalah menemukan jalan agar keduanya saling menguatkan.

NU memiliki warisan intelektual yang sangat kaya. Pesantren telah membuktikan kemampuannya bertahan dan berkembang selama berabad-abad. Namun, generasi santri hari ini hidup dalam realitas yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.

Baca juga  DANREM 174/ATW DAMPINGI PANGDAM XVII/CEN KUNJUNGAN KERJA DI MAKO YONIF 757/GV

Mereka hidup bersama teknologi.

Mereka berinteraksi melalui media sosial.

Mereka menghadapi ekonomi digital.

Mereka akan memasuki dunia kerja yang semakin dipengaruhi kecerdasan buatan.

Karena itu, NU harus memastikan generasi mudanya tidak hanya menjadi pewaris tradisi, tetapi juga menjadi pelaku perubahan.

Santri harus memiliki ruang untuk berkreasi.

Generasi muda harus memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan.

Dan organisasi harus mampu mendengar suara zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Saya melihat inilah pekerjaan besar NU lima tahun ke depan.

Gus Kikin memiliki modal kuat dari tradisi pesantren dan pengalaman organisasi. Namun, tantangan kepemimpinan ke depan adalah bagaimana modal tersebut diterjemahkan menjadi bahasa yang mampu dipahami generasi masa kini.

NU harus tetap menjadi penjaga tradisi.

Tetapi NU juga harus menjadi pelopor dalam menghadapi perubahan.

NU tidak perlu berubah menjadi organisasi yang kehilangan akar.

Justru karena akarnya kuat, NU seharusnya memiliki keberanian untuk tumbuh lebih tinggi.

Pohon yang memiliki akar kuat tidak takut menghadapi angin.

Begitu pula NU.

Tradisi adalah akar.

Sementara kemampuan membaca perubahan adalah cabang yang membuat organisasi terus tumbuh dan memberikan manfaat.

Muktamar ke-35 di Tambakberas pada akhirnya bukanlah sebuah titik akhir.

Ia adalah awal.

Gus Kikin telah menerima amanah besar. Para peserta Muktamar akan kembali ke daerah masing-masing. Tambakberas perlahan akan kembali pada ritme kehidupan sehari-hari.

Tetapi semangat yang lahir dari Muktamar tidak boleh ikut menghilang.

Semangat guyub.

Semangat persaudaraan.

Tradisi keilmuan.

Kepedulian terhadap masyarakat.

Dan keberanian menghadapi perubahan.

Semua itu harus menjadi energi baru bagi perjalanan Nahdlatul Ulama lima tahun ke depan.

Sebab, keberhasilan sebuah Muktamar pada akhirnya tidak hanya diukur dari siapa yang terpilih menjadi pemimpin.

Keberhasilan sesungguhnya akan terlihat dari apa yang terjadi setelah Muktamar selesai.

Apakah masyarakat merasakan manfaatnya?

Apakah generasi muda mendapatkan ruang?

Apakah NU semakin kuat menjaga tradisi sekaligus mampu menjawab persoalan zaman?

Itulah pertanyaan yang akan menentukan perjalanan NU ke depan.

Dan dari Tambakberas, saya menangkap sebuah pesan yang sederhana tetapi sangat penting:

NU harus tetap berakar kuat pada tradisi, tetapi tidak boleh takut menghadapi perubahan.

Sebab masa depan hanya bisa dibangun oleh mereka yang memahami akar sejarahnya, tetapi juga berani melangkah menuju zaman yang baru.

(Anil)

Share :

Baca Juga

BERITA UTAMA

Darah Prajurit TNI di Lebanon: Aceng Syamsul Hadie (ASH): Ujian Harga Diri Indonesia di Panggung Dunia

BERITA UTAMA

Polres Sampang Amankan 10 Remaja Pelaku Tawuran Jelang Sahur

BERITA UTAMA

Indonesia Mau Impor Beras 1000 Ton dari Amerika Serikat, Senator Lia Istifhama Gass Bilang Ini

BERITA UTAMA

Kapolres Bangkalan Bantu Bedah Rumah Warga Tanah Merah yang Sebatang Kara

BERITA UTAMA

Patroli Samapta Polresta Palangka Raya Lewati Rute Ini

Artikel

Tingkatkan Skill, Jalasenastri Kodiklatal Ikuti Pelatihan Public Speaking

Artikel

Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Rutan Batam Gelar Upacara Bendera Bertemakan “pancasila perekat bangsa menuju indonesia raya”

Artikel

LAMBANNYA INSPEKTORAT KABUPATEN SUMENEP MENANGANI KASUS BUMDES LESTARI DESA KALIANGET TIMUR