SURABAYA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Timur kembali mendapat sorotan setelah munculnya kasus keracunan makanan yang menimpa ratusan penerima manfaat di Kabupaten Sidoarjo.
Di tengah kondisi tersebut, Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama atau Ning Lia, mendukung langkah Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang berencana mengumpulkan seluruh pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menurut Ning Lia, forum tersebut dapat menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh sekaligus memastikan standar keamanan pangan benar-benar diterapkan di setiap SPPG.
“Langkah Pemprov Jawa Timur untuk mengumpulkan seluruh pengelola SPPG ini sangat baik. Ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam memastikan program MBG berjalan dengan baik, terutama dari sisi keamanan pangan dan kualitas makanan yang diberikan kepada masyarakat,” ujar Ning Lia.
Ia menilai evaluasi menjadi semakin penting karena persoalan keracunan dalam pelaksanaan MBG bukan lagi persoalan yang bisa dipandang sebelah mata. Kejadian yang berulang, menurutnya, harus menjadi bahan koreksi bersama agar tidak kembali menimbulkan keresahan, terlebih penerima manfaat program tersebut banyak berasal dari kalangan anak-anak.
“Masalah keracunan makanan ini memang sudah seharusnya menjadi perhatian serius. Apalagi kejadian serupa sudah berulang. Jangan sampai persoalan yang sama terus terjadi dan justru menimbulkan keresahan di tengah masyarakat,” katanya.
Menjenguk Korban di Sidoarjo
Perhatian Ning Lia terhadap persoalan tersebut juga diwujudkan dengan turun langsung menemui korban keracunan MBG di Kabupaten Sidoarjo.
Pada Rabu malam (2/9/2026), ia menjenguk sejumlah penerima manfaat yang masih menjalani perawatan, termasuk para santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam.
Para santri pesantren tersebut menjadi salah satu kelompok korban dengan jumlah cukup besar, yakni lebih dari 400 santri.
Bagi Ning Lia, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan angka. Di balik ratusan korban, terdapat anak-anak dan keluarga yang harus menghadapi kekhawatiran ketika seharusnya mereka mendapatkan makanan bergizi dan aman.
“Keprihatinan saya sangat mendalam kepada seluruh korban, khususnya anak-anak dan para santri yang harus menjalani perawatan. Semoga semuanya segera diberikan kesembuhan,” tuturnya.
Ia berharap seluruh korban mendapat penanganan terbaik hingga benar-benar pulih. Di sisi lain, kejadian tersebut diharapkan menjadi evaluasi penting bagi seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan MBG.
Jangan Berhenti pada Penanganan Korban
Ning Lia menekankan, evaluasi tidak semestinya berhenti setelah korban mendapatkan penanganan medis. Menurutnya, pemerintah perlu memastikan sumber persoalan dapat ditemukan dan sistem pengawasan diperbaiki.
Evaluasi tersebut, kata dia, perlu mencakup seluruh mata rantai penyediaan makanan, mulai dari pengadaan dan pemeriksaan bahan pangan, proses pengolahan, kebersihan dapur, penyimpanan, distribusi hingga makanan diterima oleh penerima manfaat.
“Program MBG ini adalah program besar dan sangat baik karena menyangkut pemenuhan gizi masyarakat. Karena itu, pelaksanaannya harus benar-benar dijaga. Jangan sampai tujuan baik dari program ini justru terganggu karena persoalan keamanan pangan,” pungkasnya.
Ia berharap koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan seluruh pengelola SPPG semakin diperkuat sehingga program MBG tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga memberikan rasa aman dan kepercayaan kepada para penerima manfaat serta keluarganya.
(Anil)










