Home / BERITA UTAMA / DAERAH / HUKRIM / KESEHATAN / Tag

Sabtu, 31 Januari 2026 - 13:06 WIB

Tanpa Sidang, Rumah Konsumen di Dreamland 2 Batam Tiba-tiba Dieksekusi

Dunia properti di Batam diguncang kabar tak sedap. Seorang konsumen bernama Depriko, penghuni perumahan Dreamland 2, Blok E1 No 49, Kelurahan Tanjung Riau, Kecamatan Sekupang, mengaku menjadi korban tindakan semena-mena. Tanpa ada panggilan sidang, mediasi, maupun aanmaning (teguran hukum), rumah yang ia cicil selama setahun kini terancam dieksekusi secara mendadak.

Kisah pilu ini bermula saat Dep membeli rumah dengan sistem cash bertahap kepada pengembang (developer) PKP. Selama satu tahun, Dep disiplin membayar cicilan sebesar Rp5 juta per bulan. Namun, badai pandemi Covid-19 menghantam ekonomi keluarganya secara drastis.

Berniat baik untuk tetap melunasi kewajibannya, Dep mengajukan permohonan keringanan melalui perwakilan developer berinisial E. Dep mengusulkan skema pembayaran sementara sebesar Rp3 juta, naik ke Rp4 juta, hingga kondisi ekonominya stabil kembali. Sayangnya, niat baik tersebut bertepuk sebelah tangan.

Baca juga  Personil Polsek Kahayan Kuala giat Patroli guna Cegah Kriminalitas

“Permohonan tersebut ditolak mentah-mentah oleh pihak developer,” ungkap Depriko dengan nada getir.

Puncak kekecewaan Dep terjadi pada Jumat (30/1/2026). Tanpa ada pemberitahuan atau proses hukum formal sebelumnya, staf Pengadilan Negeri (PN) Batam dikabarkan mendatangi kediamannya membawa surat pengosongan rumah.

“Saya kaget. Tidak pernah ada panggilan sidang, mediasi, atau surat apa pun. Di rumah itu orang tua saya tinggal. Lalu tiba-tiba ada surat Eksekusi. Apakah PN sekarang seperti debt collector, bisa mengeksekusi dengan mudah?” tanya Depriko penuh tanya saat ditemui media.

Tak hanya staf PN, pada hari yang sama, pukul 17.45 WIB, empat orang yang mengaku dari institusi kepolisian (Polresta Barelang) juga mendatangi lokasi. Kehadiran para petugas ini menambah tekanan psikologis bagi keluarga konsumen.

Merespons aduan ini, Ketua Yayasan Advokasi Lembaga Perlindungan Konsumen (YALPK) Kepri, Parida Sembiring, langsung bergerak mendatangi PN Batam. Ia mempertanyakan prosedur Eksekusi yang dinilai melompati aturan hukum yang berlaku.

Baca juga  CEK KESIAPAN TEMPUR PRAJURIT BATALYON INFANTERI 4 MARINIR LAKSANAKAN APEL ORGANIK

“Kami mempertanyakan prosedur Eksekusi tanpa proses hukum yang jelas. Kami berharap ada mediasi. Mencari nafkah untuk membayar rumah itu bukan hal mudah,” tegas Parida usai menyambangi kantor PN Batam.

Parida juga mengingatkan agar pihak pengembang tidak menggunakan kekuasaan secara semena-mena terhadap masyarakat kecil. Saat ini, pihak YALPK meminta agar proses Eksekusi dihentikan sementara mengingat kondisi psikologis konsumen yang sedang terguncang.

Kasus ini menambah daftar panjang dugaan ketimpangan hukum antara pengembang besar dan konsumen kecil di Batam. Publik kini menanti transparansi dari PN Batam terkait prosedur Eksekusi yang dianggap janggal tersebut. (Herman batam)

Share :

Baca Juga

BERITA UTAMA

Babinsa Koramil 15/Klirong Hadiri Undangan Lelang Pengadaan Barang Dan Jasa

Artikel

Personel Polsek Kahayan Kuala, melaksanakan sosialisasi Maklumat Kapolda Kateng terkait mengemukakan pendapat di muka umum

Artikel

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tegal Periode 2024-2029 Agus Solichin menggelar acara tasyakuran

BERITA UTAMA

Danramil 04/Kra Hadiri Rapat Penawaran Harga/Negosiasi Barang/Jasa Desa Karangkemiri Kecamatan Karanganyar

Artikel

Babinsa Segedong Dampingi Petani Panen Padi Gunakan Alat Modern

Artikel

Inovasi Edu-Lead SPN Polda Jatim: Instruktur dan Pengasuh Bukan Hanya Menguji Tapi Mengedukasi dan Memotivasi

BERITA UTAMA

Ciptakan Kamseltibcarlantas, Satlantas Polres Pulang Pisau Bagikan Brosur Keselamatan kepada Pengendara

BERITA UTAMA

Bentangkan Spanduk, Polsek Rakumpit Gencar Sosialisasikan Karhutla ke Warga