TargetNews.id, Kota Batu – Hasil monitoring yang dilakukan oleh Profauna Indonesia pada Januari 2022 terdapat Burung elang Jawa (Nisaetus Bartelsi). Jenis burung tersebut habitatnya berada di hutan Gunung Pucung Desa Bulukerto Kecamatan Bumiaji Kota Batu berjumlah 3 ekor. Karakter burung itu tidak bisa dikembang biakan oleh manusia dan memiliki terbang secara luas.
Berjalannya waktu saat ini burung elang Jawa yang hampir menyerupai dengan lambang negara Indonesia (Burung Garuda) sudah mengalami pengembang biakan mencapai 5 ekor. Hal itu dikatan oleh masyarakat petani Desa Bulukerto yang sering melihat Elang Jawa itu berterbangan di hutan Gunung Pucung.
“Hal keberadaan Elang Jawa tersebut disampaikan oleh Kepala Desa Bulukerto Suhermawan, elang Jawa yang berada di kawasan desanya memiliki cirikhas tersendiri,berbulu coklat dipadu warna hitam,dan di atas kepala terdapat jambul keatas,”terang Kades Suhermawan, Selasa (28/4/26).
Penemuan elang Jawa itu merupakan salah burung yang sangat langka dan endemik yang keberadaannya rawan punah. Oleh karena itu,ucap Suhermawan, burung elang Jawa dijadikan maskot Desa Bulukerto yang menjadi cirikhas wilayah desanya.
“Meskipun keberadaan Elang Jawa yang jarang nampak dihamparan pertanian di wilayah Bulukerto, tetap sesuai rumusan pakar ekologi, pecinta alam, sesepuh masyarakat dan warga lainnya, mendukung dijadikan maskot di kantor balai desa Bulukerto,”papar Suhermawan.
Secara ekologi situasi di kawasan hutan Gunung Pucung pada saat ini sangatlah cocok bagi kehidupan dan perkembang biakan elang Jawa yang sudah hampir mengalami kepunahan. Hal itu di duga banyaknya terjadi alih fungsi lahan yang dilakukan oleh para petani penggarap di hutan produksi atau hutan sosial maupun Tahura.
“Dewasa ini kondisi status hutan apapun patut dan perlu sekali untuk dilakukan reboisasi secara maksimal, agar koservasi alam di dalam dan di luar hutan akan bisa mendukung keberadaan satwa-satwa bisa hidup dan berkembang biak. Itu berorientasi menguatkan pohon tegakan sebagai penghasil sumber mata air dan kelestarian alam,”urai Kades (Wan)










