SAMPANG — Gelombang protes warga kembali memanas. Warga Slabayan bersama puluhan aktivis menyatakan sepakat menggelar aksi demonstrasi besar-besaran ke pabrik apabila hasil audiensi antara Forum Masyarakat Camplong (FMC), pihak PT Garam, dan Komisi II DPRD Sampang tidak segera direspons secara serius oleh perusahaan.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Faisol selaku koordinator gerakan warga dan aktivis. Ia menegaskan bahwa masyarakat sudah kehilangan kesabaran karena berbagai tuntutan warga selama ini dinilai belum mendapatkan kepastian penyelesaian.
“Warga bersama puluhan aktivis sudah sepakat turun demo apabila hasil audiensi tidak dipenuhi. Ini bentuk kekecewaan masyarakat terhadap sikap PT Garam yang dianggap lamban merespons aspirasi warga,” tegas Faisol.
Menurutnya, aksi massa nantinya tidak hanya berpusat di area pabrik PT Garam, namun juga berpotensi meluas hingga ke jalan nasional yang berada di sekitar kawasan perusahaan.
Massa bahkan mengancam akan melakukan penyegelan pabrik garam serta blokade jalan nasional sebagai bentuk tekanan terhadap pihak perusahaan agar segera memberikan solusi nyata terhadap berbagai persoalan yang dikeluhkan warga sekitar.
“Kami siap turun ke jalan nasional karena lokasi itu menjadi titik koordinasi aksi. Jika tuntutan warga tetap diabaikan, maka penyegelan pabrik dan blokade jalan menjadi opsi yang sedang disiapkan,” lanjut Faisol.
Sementara itu, aktivis senior Sampang, , turut menyampaikan bahwa aksi demonstrasi mendatang berpotensi mendapat dukungan lebih luas dari berbagai elemen aktivis se-Madura.
Ia menyebut solidaritas antarkelompok masyarakat sipil terus menguat menyusul meningkatnya keresahan warga terhadap kondisi sosial di kawasan Slabayan dan sekitar operasional PT Garam.
“Demo nanti tidak menutup kemungkinan akan diikuti kawan-kawan aktivis se-Madura sebagai bentuk solidaritas dan empati terhadap kondisi warga Slabayan,” ujar Syamsuddin.
Masyarakat berharap hasil audiensi bersama FMC dan Komisi II DPRD Sampang dapat segera ditindaklanjuti guna menghindari eskalasi konflik yang lebih besar di lapangan.










