Demo Mahasiswa dan Simbol Tiga Jari: Ekspresi Kemarahan, Kekecewaan, Solidaritas, dan Perlawanan terhadap Kebijakan Pemerintah
Oleh Aceng Syamsul Hadie (ASH)*
Aksi demonstrasi mahasiswa dan masyarakat sipil di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat, pada Selasa (20/10/2026), diwarnai dengan acungan tiga jari di tengah orasi dan penyampaian pendapat.
Gestur tersebut digunakan oleh massa yang tergabung dalam Komite Sadar sebagai simbol protes terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Simbol tiga jari atau three-finger salute dikenal luas melalui waralaba film The Hunger Games. Dalam cerita tersebut, gestur tiga jari menjadi simbol penghormatan, duka cita, solidaritas, sekaligus perlawanan masyarakat terhadap kekuasaan Capitol yang represif.
Simbol Tiga Jari telah digunakan diberbagai negara, seperti Thailand, Myanmar, Hongkong, Kamboja, Laos, dan Filipina. Pada umumnya simbol ini diasosiasikan sebagai bentuk perlawan, solidaritas, kebebasan, demokrasi, dan penolakan terhadap kekuasaan yang dianggap represif.
Di Indonesia, penggunaannya dalam aksi Tugu Tani pada 20 Oktober 2026 memperoleh konteks politik tersendiri. Dalam aksi tersebut, simbol tiga jari digunakan sebagai ekspresi kemarahan, kekecewaan, solidaritas, dan perlawanan terhadap kebijakan pemerintah.
Dalam konteks aksi tersebut, BEM UI menyebut simbol tiga jari sebagai lambang kemarahan dan kekecewaan masyarakat terhadap kepemimpinan yang dinilai gagal. Simbol itu digunakan bersamaan dengan berbagai tuntutan, termasuk isu kebakaran hutan dan lahan, korupsi dan kolusi, serta kebebasan sipil.
Dengan demikian, makna simbol tiga jari tidak selalu identik dengan satu tuntutan tertentu. Maknanya bergantung pada konteks gerakan yang menggunakannya. Secara umum, simbol tersebut telah diasosiasikan dengan solidaritas, kebebasan, kesetaraan, dan perlawanan terhadap kekuasaan yang dianggap represif atau otoriter.
Apa arti tiga jari?
Dalam konteks politik kontemporer, acungan tiga jari dapat dibaca sebagai simbol:
– perlawanan terhadap kekuasaan yang dianggap represif;
– solidaritas antarpeserta gerakan;
– kebebasan dan demokrasi;
– persatuan masyarakat dalam menghadapi kekuasaan;
– serta penolakan terhadap otoritarianisme.
Karena itu, ketika simbol tersebut muncul dalam demonstrasi di Tugu Tani, maknanya tidak sekadar mengacu pada film The Hunger Games. Gestur tersebut telah berkembang menjadi bahasa visual politik yang digunakan berbagai kelompok untuk menyampaikan pesan perlawanan dan solidaritas.
Singkatnya, tiga jari yang diangkat para demonstran merupakan simbol perlawanan dan solidaritas yang populer berkat The Hunger Games, tetapi dalam penggunaannya di dunia nyata maknanya berkembang sesuai konteks politik masing-masing negara dan gerakan. []
*) Penulis,
Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM
Ketua Dewan Pembina Pusat ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional)










