TARGETNEWS.ID SURABAYA – Kehadiran Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama atau yang akrab disapa Ning Lia, di berbagai perguruan tinggi mendapat perhatian kalangan mahasiswa. Bukan sekadar hadir dalam forum diskusi maupun kuliah umum, kunjungannya ke lingkungan kampus menjadi ruang berbagi pengalaman tentang kepemimpinan, politik, demokrasi, hingga pengabdian kepada masyarakat.
Bagi sebagian mahasiswa, perjumpaan dengan Ning Lia menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat dunia politik dan kepemimpinan dari sudut pandang seorang praktisi yang terlibat langsung dalam proses pengambilan kebijakan publik.
Dengan perolehan 2.739.123 suara pada Pemilu 2024, Ning Lia tercatat sebagai senator perempuan nonpetahana dengan perolehan suara tertinggi secara nasional. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bekal untuk berbagi perspektif mengenai dinamika politik, kepercayaan publik, serta pentingnya representasi masyarakat.
Sejumlah perguruan tinggi yang pernah menjadi ruang berbagi pengalaman Ning Lia di antaranya Universitas Airlangga (Unair), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Islam Madura (Unira), Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Universitas Wiraraja Sumenep, Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo, Politeknik, dan sejumlah kampus lainnya.
Kehadirannya di lingkungan akademik dinilai membuka ruang dialog antara mahasiswa dan praktisi politik. Tidak hanya berbicara tentang teori, mahasiswa juga berkesempatan menyerap pengalaman mengenai bagaimana membangun komunikasi dengan masyarakat dan memperjuangkan aspirasi melalui jalur kelembagaan.
Ketua BEM FISIP Untag Surabaya, Awaludin Kahar, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kesediaan Ning Lia berbagi ilmu serta pengalaman dengan mahasiswa. Menurutnya, pertemuan tersebut menjadi pembelajaran berharga bahwa politik bukan semata-mata tentang jabatan, melainkan keberanian mengambil peran dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
“Kehadiran Ibu Lia Istifhama menjadi kesempatan berharga bagi kami untuk belajar tentang kepemimpinan dan pengabdian kepada masyarakat. Sebagai Anggota DPD RI Dapil Jawa Timur dengan perolehan 2,7 juta suara, beliau menjadi salah satu sosok yang menginspirasi generasi muda untuk berani mengambil peran dalam dunia politik,” ungkap Awaludin.
Ia menilai perjalanan Ning Lia di dunia politik juga memberikan pelajaran mengenai pentingnya membangun kedekatan dengan masyarakat. Pendekatan komunikasi yang humanis, terbuka, dan mampu merangkul berbagai kalangan menjadi nilai tersendiri yang menarik untuk dipelajari mahasiswa.
Awaludin juga mengapresiasi penghargaan yang diterima Ning Lia sebagai Politisi Humanis Indonesia. Baginya, penghargaan tersebut merefleksikan pentingnya menempatkan nilai kemanusiaan dalam praktik politik.
“Dari Ning Lia kita belajar bahwa politik bukan hanya sekadar jabatan, tetapi tentang kepedulian, kesediaan mendengarkan aspirasi, dan upaya menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat,” tuturnya.
Ia berharap Ning Lia terus diberikan kesempatan untuk memperluas kontribusinya bagi masyarakat Jawa Timur. Awaludin juga berharap semakin banyak ruang partisipasi yang terbuka bagi generasi muda agar mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut mengambil bagian dalam proses pembangunan dan kehidupan demokrasi.
Sementara itu, Ning Lia menekankan bahwa generasi muda, termasuk Gen Z dan Generasi Alpha, perlu mempersiapkan diri menghadapi tantangan kepemimpinan masa depan. Menurutnya, penguasaan pengetahuan dan kemampuan menyampaikan gagasan saja belum cukup. Generasi muda juga harus mampu membaca persoalan, menawarkan solusi, serta memiliki empati sosial.
Senator yang dikenal dekat dengan kalangan muda tersebut menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membentuk calon pemimpin yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga berintegritas dan memiliki kepekaan terhadap persoalan masyarakat.
Salah satu nilai yang perlu terus diperkuat adalah meritokrasi, yakni sistem yang memberikan kesempatan kepada seseorang untuk berkembang berdasarkan kemampuan, kompetensi, prestasi, dan integritas.
“Gagasan meritokrasi menempatkan kemampuan, kompetensi, prestasi, dan integritas sebagai dasar seseorang memperoleh posisi atau kepercayaan. Dengan prinsip ini, kesempatan berkiprah di dunia legislatif tidak semestinya hanya terbuka bagi mereka yang memiliki kekayaan, kedekatan politik, atau latar belakang tertentu,” kata Ning Lia, yang juga putri KH Masykur Hasyim tersebut.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa masa depan kepemimpinan tidak semestinya ditentukan oleh siapa seseorang atau dari mana ia berasal, melainkan oleh kapasitas, integritas, serta kontribusi nyata yang mampu diberikan kepada masyarakat.
(Anil)










