SURABAYA – Suasana hangat terasa dalam pertemuan antara anggota DPD RI Jawa Timur, Lia Istifhama, bersama masyarakat. Tak sekadar agenda formal, pertemuan itu berubah menjadi ruang curhat penuh kejujuran, ketika warga menyampaikan kegelisahan mereka tentang kondisi ekonomi yang kian terasa berat.
Dengan senyum ramah, Ning Lia—sapaan akrabnya—menyambut satu per satu warga yang datang. Ia mendengarkan dengan saksama, bahkan sesekali menggenggam tangan mereka, seolah ingin memastikan bahwa setiap keluhan benar-benar sampai dan dipahami.
Cerita yang mengalir pun beragam. Mulai dari daya beli yang terus menurun, hingga pelaku usaha kecil yang mulai kehabisan napas karena keterbatasan modal. Bagi sebagian warga, situasi ini bukan sekadar angka ekonomi, melainkan soal bertahan hidup di tengah kebutuhan yang terus meningkat.
“Yang kami rasakan sekarang ini memang berat. Banyak yang harus diperjuangkan bersama,” tutur Ning Lia dengan nada lembut.
Baginya, mendengar langsung cerita masyarakat bukan hanya bagian dari tugas, tetapi juga panggilan hati. Ia meyakini, setiap keluhan yang disampaikan adalah potret nyata kondisi yang harus segera dicarikan solusi.
Ning Lia pun menegaskan komitmennya untuk membawa suara tersebut ke tingkat pusat. Ia ingin memastikan bahwa apa yang dirasakan masyarakat tidak berhenti sebagai cerita, tetapi menjadi dasar kebijakan yang berpihak.
“Kami ingin hadir bukan hanya untuk melihat, tapi benar-benar merasakan dan memperjuangkan,” ujarnya.
Pertemuan itu ditutup dengan kehangatan—senyum, jabat tangan, dan harapan yang perlahan tumbuh. Di balik setiap curhat yang disampaikan, terselip keyakinan bahwa masih ada yang mau mendengar, dan berjuang bersama mereka
ANIL










