Surabaya, TargetNews.ID – Insiden kaburnya 20 orang residen sekaligus dari lembaga rehabilitasi narkoba Oemah Sehat Bersinar menyisakan tabir tebal yang membingungkan publik. Jumat, 16/10/26
Bukannya menyajikan evaluasi transparan atas sistem pengamanan yang bobol, respons dari pihak pengelola hingga bisunya lembaga pembina justru melahirkan satire pahit dalam penanganan adiksi di Jawa Timur.
“Voluntary” Kok Kabur? Logika yang Terpental
Pihak Oemah Sehat Bersinar berdalih bahwa para residen yang meloloskan diri merupakan klien voluntary alias datang atas kesadaran sendiri. Di sinilah logika dasar penanganan rehabilitasi patah di tengah jalan.
Dalam protokoler medis dan psikologis, klien voluntary datang secara sukarela, mengikat komitmen pemulihan, dan memiliki hak administratif untuk pulang atau mengundurkan diri secara prosedural. Jika mereka berada di sana atas kemauan sendiri dan diperlakukan sesuai standar keselamatan, untuk apa mereka harus nekat melompati pagar atau mencari celah untuk melarikan diri?
Penggunaan kata “kabur” secara teknis menandakan adanya situasi yang mengungkung atau ketidaknyamanan ekstrem yang memicu respons penyelamatan diri. Menstempel mereka sebagai klien voluntary sekaligus melabelinya “kabur” adalah kontradiksi narasi yang menggelikan.
Aksi nekat 20 klien yang kabur secara massal seolah menjadi jeritan bahwa mereka merasa jauh dari kata “selamat” selama berada di fasilitas tersebut.
Pernyataan dari sang pemilik yang menyebut bahwa kasus pasien kabur adalah hal “lumrah dan banyak terjadi di lembaga lain” semakin menunjukkan betapa murahnya standar pengamanan yang mereka miliki.
Jika aksi meloloskan diri saja disederhanakan sebagai hal yang lumrah, lantas standar keselamatan seperti apa yang sebenarnya diterapkan? Dengan logika bengkok semacam ini, jangan kaget jika kelak muncul sindiran pahit: jika kabur saja dinilai lumrah, jangan-jangan kalau ada klien yang sampai meninggal pun akan dianggap kejadian biasa yang tak perlu dievaluasi?
Pernyataan yang meremehkan insiden keselamatan ini menelanjangi rapuhnya crisis management internal. Menjadikan celah keamanan di tempat lain sebagai pembenaran atas keteledoran rumah sendiri adalah bentuk pengabaian tanggung jawab kelembagaan yang sangat telanjang.{R}










