TARGETNEWS.ID SURABAYA – Pertemuan antara Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Hj. Lia Istifhama, dengan jajaran Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Di sela pembahasan evaluasi penyelenggaraan Pilkada Serentak 2024, Ning Lia mencairkan suasana melalui sejumlah pantun yang ditujukan kepada para komisioner.
Tak sekadar menghadirkan keceriaan, pantun tersebut juga menjadi cara Ning Lia menyampaikan apresiasi atas kerja penyelenggara pemilu sekaligus membangun komunikasi yang lebih akrab dalam forum kelembagaan.
Pertemuan pada Kamis (29/10/2026) itu merupakan bagian dari pelaksanaan fungsi pengawasan Komite I DPD RI terhadap implementasi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.
Dalam kesempatan tersebut, Ning Lia mengapresiasi tingkat partisipasi masyarakat Jawa Timur pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur 2024 yang tercatat mencapai 70,06 persen atau sebanyak 21.937.202 pemilih.
Angka itu meningkat dibandingkan partisipasi pada Pilgub Jawa Timur 2018 yang mencapai 67,39 persen.
Bagi Ning Lia, capaian partisipasi tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam melihat pelaksanaan demokrasi di Jawa Timur. Evaluasi tetap diperlukan untuk mengidentifikasi tantangan sekaligus memperkuat kualitas penyelenggaraan pemilu pada masa mendatang.
Suasana audiensi semakin cair ketika Ning Lia melontarkan pantun untuk Ketua KPU Jatim, Aang Kunaifi.
“Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi. Kalau sudah jumpa dengan Mas Aang, boleh kita sebut senyumnya memikat hati,” ujar Ning Lia.
Pantun tersebut disambut suasana ceria. Dengan gaya yang santai, Ning Lia kemudian menyapa sejumlah komisioner lainnya melalui rangkaian pantun yang mengundang senyum.
Kepada Anggota KPU Jatim Habib M. Rohan, Ning Lia berpantun, “Menyentuh dahan di bawah pohon rindang, Mas Rohan senyumnya sungguh sedap dipandang.”
Sementara untuk Choirul Umam, ia menyampaikan pantun singkat, “Sayur bayam, sayur selada, Mas Umam tatapannya bikin gundah.”
Pantun berikutnya ditujukan kepada Nur Salam. “Memandang alam ditemani kekasih tercinta, senyuman Mas Nur Salam selalu menjadi cerita,” ucapnya.
Ning Lia juga menyampaikan pantun untuk Miftahur Rozaq atau Lora Rozaq. “Hati berdetak karena tatapan teduh, Lora Rozaq senyumnya manis sungguh.”
Adapun kepada Eka Wisnu Wardhana, Ning Lia melontarkan pantun, “Ada kupu-kupu di atas kertas, Mas Eka Wisnu kerjanya tuntas.”
Rangkaian pantun tersebut menghadirkan nuansa akrab di tengah agenda resmi yang membahas evaluasi pelaksanaan pemilu. Suasana cair itu sekaligus memperlihatkan bahwa komunikasi kelembagaan dapat berlangsung serius tanpa harus kehilangan sentuhan humanis.
Di luar suasana hangat tersebut, inventarisasi materi pengawasan yang dilakukan Komite I DPD RI tetap diarahkan untuk mengidentifikasi pelaksanaan regulasi, berbagai kendala di lapangan, serta aspek yang perlu diperkuat dalam penyelenggaraan pemilu.
Pertemuan itu dihadiri Ketua KPU Jatim Aang Kunaifi, beserta anggota KPU Jatim Miftahur Rozaq, Eka Wisnu Wardhana, Nur Salam, Habib M. Rohan, dan Choirul Umam.
Hadir pula Sekretaris KPU Jatim Nanik Karsini, Kepala Bagian SDM dan Partisipasi Masyarakat Popong Anjarseno, Kepala Bagian Teknis dan Hukum Yulyani Dewi, Plt. Kepala Bagian Keuangan, Umum, dan Logistik Agus Purwanto, Plt. Kepala Bagian Perencanaan, Data, dan Informasi Andrie Susanto, serta jajaran staf KPU Jatim.
Ketua KPU Jatim Aang Kunaifi menyampaikan terima kasih atas kunjungan Ning Lia. Ia menilai pertemuan tersebut menjadi ruang untuk berdiskusi sekaligus mempererat komunikasi antara penyelenggara pemilu dan anggota DPD RI.
Aang juga berharap kantor KPU dapat menjadi ruang kerja dan pelayanan yang semakin representatif untuk mendukung pelaksanaan tugas kelembagaan, terutama dalam melayani masyarakat dan mempersiapkan tahapan pemilu mendatang.
Pertemuan tersebut menegaskan pentingnya menjaga komunikasi antara lembaga penyelenggara pemilu dan wakil daerah. Sebab, di balik angka partisipasi dan tahapan administratif, demokrasi juga membutuhkan ruang dialog yang terbuka, evaluasi yang berkelanjutan, serta kepercayaan masyarakat yang terus dirawat.
(Anil)










